27/06/2026

Demo Indonesia Sekarat Ricuh, Massa Lempar Botol Plastik ke Gedung Grahadi

Penulis

Pande Tóng

Demo Indonesia Sekarat Ricuh, Massa Lempar Botol Plastik ke Gedung Grahadi
Demo Indonesia Sekarat Ricuh, Massa Lempar Botol Plastik ke Gedung Grahadi

Hesti.id – 27 Juni 2026 | Demo Indonesia sekarat ricuh, massa lempar botol plastik ke arah Gedung Grahadi terjadi di Surabaya pada Jumat (26/6) malam. Aksi unjuk rasa ini, yang diprakarsai oleh kelompok Warga Surabaya Turun Jalan 031 Melawan, dimulai sejak sore hari dan mengalami eskalasi menjadi kericuhan. Demonstrasi ini bertujuan untuk menyuarakan berbagai tuntutan terkait kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat.

Massa yang hadir di lokasi memulai aksi dengan orasi dalam bentuk lingkaran besar. Namun, situasi mulai memanas ketika juru bicara kelompok, Septia Rahma, menyerukan agar massa maju lebih dekat menuju gerbang Gedung Grahadi. Seruan tersebut direspons dengan antusias oleh para demonstran, yang kemudian mulai melempar berbagai benda, termasuk botol plastik, ke arah gedung.

Dalam situasi tersebut, kerusuhan tidak dapat dihindari. Massa mulai merusak pagar besi di sisi barat gedung yang baru saja diperbaiki. Selain itu, mereka juga melempar batu, balok kayu, dan petasan ke arah petugas kepolisian yang berjaga di sana. Meski pihak kepolisian sudah berusaha mengimbau agar massa tetap tertib, ajakan tersebut tidak dihiraukan.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Luthfie Sulistiyawan, menjelaskan bahwa pihaknya telah memberikan kesempatan kepada massa aksi untuk menyampaikan pendapatnya dengan damai. Namun, setelah beberapa waktu, aksi massa yang anarkis memaksa polisi untuk mengambil tindakan tegas. Mereka mengerahkan armada kendaraan taktis untuk memukul mundur demonstran yang semakin tidak terkendali.

Kericuhan ini merupakan bagian dari rangkaian aksi protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai menyalahi prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan sosial. Para demonstran, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan masyarakat sipil, menyampaikan delapan tuntutan, antara lain penolakan terhadap revisi Undang-Undang TNI, penolakan perluasan fungsi TNI dalam ranah sipil, serta penambahan kewenangan TNI dalam operasi militer di luar perang, termasuk di ranah siber.

Salah satu peserta aksi, Aulia Thaariq Akbar, yang juga Presiden BEM Universitas Airlangga, menegaskan pentingnya aksi ini untuk menjaga demokrasi yang telah diperjuangkan. Ia mengajak semua elemen masyarakat untuk bersatu dalam menyuarakan aspirasi dan menolak kebijakan yang dianggap merugikan rakyat.

Meski aksi ini berakhir dengan kericuhan, pihak kepolisian berhasil membubarkan massa dan menjaga situasi di sekitar Gedung Grahadi agar tetap kondusif. Namun, insiden ini menunjukkan potensi ketegangan yang dapat terjadi antara masyarakat dan aparat ketika tuntutan akan keadilan dan transparansi tidak terpenuhi.

Demo Indonesia sekarat ricuh, massa lempar botol plastik ke arah Gedung Grahadi ini menjadi salah satu contoh bagaimana unjuk rasa dapat bertransformasi dari aksi damai menjadi kerusuhan, memperlihatkan pentingnya dialog dan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Related Post

Tinggalkan komentar