Hesti.id – 26 Juni 2026 | Jakarta, CNN Indonesia — Insiden tragis yang menimpa peserta latihan dasar kemiliteran (latsarmil) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) memicu koalisi untuk menuntut latihan militer Kopdes Merah Putih dihentikan. Dalam dua pekan terakhir, empat peserta pelatihan telah meninggal dunia, menimbulkan keprihatinan yang mendalam di kalangan masyarakat dan pemerintah.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyatakan bahwa setelah tiga peserta meninggal dunia, evaluasi dan perbaikan pelaksanaan latsarmil sangat diperlukan. Menurutnya, meskipun para peserta telah menjalani asesmen kesehatan, hal ini tidak cukup untuk menjamin keselamatan mereka selama pelatihan. “Kita perlu memastikan bahwa program yang dibuat untuk kepentingan bangsa dan masyarakat ini benar-benar dapat berjalan dengan baik,” tegasnya di Gedung DPR RI, Jakarta.
Dalam laporan terbaru, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan adalah peserta keempat yang meninggal dunia setelah mengalami sesak napas saat mengikuti latsarmil. Rifki, yang sedang menjalani pendidikan di Satdik Yon Parako 465, meninggal pada 26 Juni 2026 setelah dirawat intensif di rumah sakit. Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan bahwa semua peserta telah melewati seleksi kesehatan yang ketat sebelum mengikuti program ini.
Baca juga:
Tragedi ini bermula ketika dua peserta, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, juga meninggal dunia pada pertengahan Juni. Anisa meninggal akibat serangan panas, sedangkan Yonanda meninggal akibat henti jantung setelah mengalami penurunan kondisi fisik. Kasus pertama yang dilaporkan adalah Novia Rahmadhani Sihotang yang meninggal akibat tuberkulosis. Keempat peserta yang meninggal ini menjalani pelatihan di empat satuan pendidikan yang berbeda di seluruh Indonesia.
Menanggapi insiden tersebut, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi memastikan bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses seleksi dan pelatihan. “Apabila ada prosedur yang salah, tentu akan kami perbaiki. Namun, sejauh ini belum ada indikasi kelalaian,” ungkapnya.
Rico Ricardo Sirait, Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, menekankan bahwa peserta telah melalui tahapan seleksi yang sesuai, termasuk pemeriksaan kesehatan. Meskipun demikian, insiden ini menimbulkan pertanyaan mengenai kesiapan fisik peserta dan beratnya beban pelatihan yang diterapkan.
Koalisi masyarakat yang terdiri dari berbagai elemen mendesak agar latihan militer Kopdes Merah Putih dihentikan hingga evaluasi menyeluruh dilakukan. Mereka berpendapat bahwa keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama sebelum melanjutkan program yang telah menimbulkan banyak korban jiwa ini.
Pemerintah dan Kemhan diharapkan dapat memberikan penjelasan dan solusi yang lebih baik untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Masyarakat juga mengharapkan adanya transparansi dalam proses evaluasi dan perbaikan program pelatihan ini agar kejadian tragis tidak terulang.
Dengan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap keselamatan peserta pelatihan, diharapkan pemerintah dapat segera mengambil tindakan yang tepat dan efektif. Koalisi tuntut latihan militer Kopdes Merah Putih dihentikan demi keamanan dan kesejahteraan calon pengelola koperasi di seluruh Indonesia.











