27/06/2026

Wakil Bupati Barru Dorong Orang Tua Berkorban untuk Pendidikan Anak

Penulis

Firdausyah Eblis Kaisar

Wakil Bupati Barru Dorong Orang Tua Berkorban untuk Pendidikan Anak
Wakil Bupati Barru Dorong Orang Tua Berkorban untuk Pendidikan Anak

Hesti.id – 27 Juni 2026 | Barru, JurnalPost.com – Wakil Bupati Barru, Abustan A. Bintang, mengajak para orang tua untuk tidak ragu berkorban demi pendidikan anak. Dalam pandangannya, biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan, terutama pendidikan agama di pondok pesantren, adalah investasi terbaik untuk masa depan generasi bangsa.

Ajakan ini disampaikan Abustan saat menghadiri acara Haflah Qiraatil Kutub di Madrasah I’dadiyah Pondok Pesantren DDI Mangkoso, yang berlangsung di Kampus III Putri Bulu Lampang, Kecamatan Soppeng Riaja, pada hari Sabtu (27/6/2026). Dalam sambutannya, Abustan mengapresiasi komitmen para orang tua santri yang memilih pendidikan anak-anak mereka di lingkungan pesantren. Ia menyebut orang tua santri sebagai sosok yang luar biasa karena memiliki keteguhan hati dalam mendukung anak-anak mereka untuk menuntut ilmu.

“Menjadi orang tua santri itu tidak gampang. Oleh karena itu, saya katakan, bapak dan ibu yang hadir di sini adalah orang tua hebat. Jangan pernah takut mengeluarkan biaya ketika anak ingin menuntut ilmu,” ujar Abustan dengan semangat.

Sebagai bentuk penghargaan kepada semangat para santri, Abustan meminta kepada panitia untuk memberikan hadiah kepada peserta yang telah mengikuti ujian pada acara Haflah Qiraatil Kutub. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tinggi rendahnya ilmu pengetahuan, melainkan juga dari kemampuan pendidikan dalam membentuk karakter anak yang beradab dan berakhlak mulia.

“Setinggi apa pun pendidikan seseorang, jika tidak diimbangi dengan adab, ilmunya tidak akan memberikan manfaat. Hari ini kita melihat nilai-nilai sopan santun mulai berkurang. Karena itu, saya bersyukur anak-anak kita dididik di DDI Mangkoso yang tetap menjaga dan membiasakan adab dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Menariknya, Abustan juga menyatakan bahwa ia terkesan dengan kualitas pendidikan di DDI Mangkoso. Ia bahkan mendorong keluarganya untuk menyekolahkan anak-anak mereka di pesantren tersebut. “Saya sudah instruksikan keluarga saya agar nanti ada juga keponakan atau cucu kami yang menjadi alumni DDI Mangkoso,” ungkap Abustan.

Dalam kesempatan tersebut, Abustan juga menyampaikan selamat kepada pengelola Pondok Pesantren DDI Mangkoso atas berbagai capaian akademik yang telah diraih. Salah satunya adalah keberhasilan para santri dalam menerbitkan buku berjudul “Di Negeri Para Perindu Ilmu” yang mendapat pendampingan dari Dr. Bahtiar Adnan Kusuma. Menurut Abustan, menulis buku bukanlah pekerjaan yang mudah, sehingga karya literasi yang dihasilkan oleh para santri tersebut patut diapresiasi. Ia mengaku ingin belajar menulis dari para akademisi, termasuk Dr. Bahtiar Adnan Kusuma.

Di akhir sambutannya, Abustan mengajak masyarakat, khususnya warga Barru, untuk terus memperkenalkan DDI Mangkoso sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam yang telah banyak melahirkan ulama dan tokoh masyarakat. “Jika ingin melihat lahirnya ulama-ulama besar, datanglah ke DDI Mangkoso. Mari kita sosialisasikan pesantren ini agar semakin banyak generasi yang mendapatkan pendidikan agama dan akhlak yang kuat,” tegasnya.

Pada acara yang sama, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barru, H. Irman, menilai Haflah Qiraatil Kutub sebagai momentum yang menunjukkan hasil nyata dari pendidikan pesantren. Ia menyatakan bahwa kemampuan santri dalam membaca dan memahami kitab kuning adalah hasil dari proses pembelajaran yang diwariskan secara turun-temurun di DDI Mangkoso. Ia juga menekankan bahwa tradisi keilmuan yang dibangun di pesantren tersebut adalah warisan berharga yang harus terus dijaga.

Sementara itu, Kepala Madrasah I’dadiyah DDI Mangkoso, Prof. (HC) Dr. Muhammad Agus, M.Th.I., menambahkan bahwa haflah adalah bentuk pertanggungjawaban pendidikan kepada orang tua. Kegiatan tersebut juga menjadi bukti perkembangan para santri setelah menempuh pendidikan selama kurang lebih sepuluh bulan. “Anak-anak datang ke DDI Mangkoso dengan kemampuan yang beragam. Bahkan, ada yang sama sekali belum bisa membaca Al-Qur’an. Alhamdulillah, hari ini mereka mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, menghafal Juz 30, menguasai ilmu sharaf, hingga membaca kitab kuning tanpa harakat,” jelasnya.

Prof. Muhammad Agus juga mengungkapkan bahwa santri angkatan tahun ini berhasil menghasilkan karya literasi berupa buku “Di Negeri Para Perindu Ilmu” yang memuat kisah perjalanan para santri sejak pertama kali memasuki pesantren. Penulisan buku tersebut mendapat pendampingan dari Dr. Bahtiar Adnan Kusuma, seorang penulis nasional yang juga merupakan orang tua santri.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya mampu membaca kitab, tetapi juga mampu menulis dan menyampaikan gagasannya melalui karya,” pungkasnya. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Pimpinan Pondok Pesantren DDI Mangkoso, Kepala Kantor Kementerian Agama, serta para guru dan tenaga pendidik di DDI Mangkoso.

Related Post

Tinggalkan komentar