Hesti.id – 27 Juni 2026 | Di sebuah kafe di Medan, suasana ramai oleh tawa pengunjung. Namun, di sudut ruangan, Zani terfokus pada layar laptopnya, menyelesaikan proyek video profil untuk organisasinya. Di samping laptopnya, tergeletak selembar Kartu Hasil Studi (KHS) yang mencatat indeks prestasi kumulatif (IPK) yang ‘ngepas’ di angka 3,0. Zani sering mendapat sindiran dari dosen yang menyebutnya sebagai mahasiswa ‘kurang fokus’ karena lebih memilih kegiatan organisasi ketimbang duduk di ruang kelas.
“Saya merasa insecure melihat teman-teman yang bangga memamerkan IPK 3,8 atau bahkan 4,0 di media sosial,” ungkap Zani. Ia menghadapi dilema: apakah mengejar angka di atas kertas yang hanya akan tersimpan di laci, atau mengasah keterampilan nyata yang lebih berharga?
Di ruang kosnya, Zani lebih memilih menuliskan target-target deadline organisasi ketimbang menempelkan pajangan IPK Cumlaude. Pilihan ini mencerminkan perubahan kebutuhan dunia kerja saat ini. Di era digital, banyak perusahaan dan industri kreatif mulai menggeser parameter dalam merekrut karyawan. Keahlian praktis, portofolio kerja, dan kemampuan bersosialisasi kini lebih diutamakan dibandingkan angka akademis semata. Meskipun IPK tinggi membuka peluang wawancara, pengalaman nyata dan kemampuan menyelesaikan masalah di lapangan sering kali menjadi kunci keberhasilan.
Baca juga:
Fenomena ini terlihat pada banyak mahasiswa yang lebih mengutamakan pengalaman daripada sekadar mendengarkan dosen di kelas. Banyak yang rela datang terlambat dengan alasan kelelahan setelah mengikuti kegiatan organisasi. Di mata akademisi, mereka mungkin dianggap indisipliner, tetapi di balik itu terdapat pilihan yang berani dan pertaruhan prioritas. Bagi Zani dan kawan-kawannya, ruang kelas adalah tempat belajar teori, sedangkan organisasi adalah arena untuk mengasah mental, kepemimpinan, serta membangun jaringan yang tidak bisa didapatkan dari ruang kuliah yang ber-AC.
Namun, penting bagi mahasiswa untuk bijak dalam menata prioritas. Pengalaman di luar kelas tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan tanggung jawab akademik. Mengembangkan visi dalam organisasi itu penting, namun menghargai integritas dalam ruang kelas adalah cerminan tanggung jawab yang sesungguhnya. Mahasiswa harus mampu menemukan keseimbangan antara ketajaman intelektual di kelas dan kematangan mental di lapangan.
Ijazah bukan sekadar kertas yang akan berdebu di laci. Ia merupakan bukti bahwa kita mampu menyelesaikan apa yang telah kita mulai di bangku perkuliahan. Dunia tidak menuntut kita untuk sempurna, tetapi menginginkan kita yang utuh, yang mampu menyelesaikan perjalanan pendidikan tanpa meninggalkan bagian dari diri kita di tengah jalan. Dalam konteks ini, pengalaman lebih dari sekadar angka ketika pengalaman jadi modal utama mahasiswa. Keseimbangan antara nilai akademis dan pengalaman praktis akan membentuk sarjana yang tidak hanya cerdas di atas kertas, tetapi juga tangguh dalam menghadapi kenyataan di dunia luar.










