Hesti.id – 28 Juni 2026 | KARAWANG, Juni 2026 — Kiprah Wahyudin Mengubah QC Menjadi Sistem Prediktif Berbasis AI menunjukkan bagaimana pengalaman lapangan yang digabungkan dengan visi digital dapat menciptakan pemimpin baru di sektor manufaktur. Perjalanan kariernya dimulai di MA Negeri 4 Karawang, dengan fokus utama pada Ilmu Pengetahuan Alam. Pendidikan ini memupuk pola pikir analitis yang kelak berperan penting dalam pendekatan sistematisnya terhadap penjaminan mutu di lingkungan produksi.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Wahyudin langsung terjun ke dunia kerja di lini produksi. Di sinilah ia mengambil tanggung jawab sebagai Quality Control (QC) dan memperbaiki cacat produk. Melalui pengalaman bertahun-tahun di area perakitan, ia mengerti dengan baik asal-usul cacat produk, titik-titik rawan dalam proses, dan dampak ekonomi dari kegagalan mutu. Hal ini semakin meneguhkan komitmennya terhadap akurasi dan standar kerja yang tinggi.
Seiring dengan berjalannya waktu, Wahyudin tidak hanya fokus pada pengendalian kualitas, tetapi juga aktif menerapkan prinsip 5S (Sort, Set in order, Shine, Standardize, Sustain) untuk menata lingkungan kerja dan mengurangi limbah. Upaya ini membawa perubahan signifikan: area kerja menjadi lebih teratur, proses produksi lebih efisien, dan tingkat cacat produk pun menurun. Namun, ia juga menyadari bahwa perubahan budaya kerja harus sejalan dengan perhatian serius terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).
Baca juga:
Pandangan Wahyudin mengenai K3 tumbuh dari pengamatan langsung terhadap kondisi kerja yang memengaruhi performa operator. Ia berpendapat bahwa menciptakan lingkungan kerja yang aman tidak hanya sekadar memenuhi regulasi, tetapi juga merupakan tanggung jawab kemanusiaan yang bisa mengurangi stres serta human error, yang sering kali menjadi penyebab cacat produk. Pendekatan ini semakin memperkuat reputasinya sebagai praktisi yang mengedepankan keselamatan dan kualitas.
Di tahun-tahun terakhir, pengalaman Wahyudin dalam menangani cacat produk secara manual mendorongnya untuk mempelajari Informatika. Ia menyadari adanya kesenjangan komunikasi antara tim TI dan operasional, sehingga sistem manajemen mutu yang ada sering kali tidak efektif. Dengan modal pengalaman lapangan, ia menambah pengetahuan digital untuk menjadi penghubung yang efektif antara kebutuhan produksi dan solusi teknologi yang ada.
Visi transformasi yang diusungnya berfokus pada penerapan sistem monitoring mutu berbasis AI dan analisis big data. Tujuannya adalah mengubah proses pengujian dari yang bersifat reaktif menjadi prediktif. Ia mendorong tiga pilar strategis dalam perusahaannya: adopsi teknologi yang tepat sasaran, peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan (upskilling), dan pembangunan ekosistem kolaboratif lintas sektor untuk memastikan kelancaran rantai pasok.
Meski dihadapkan pada tantangan global seperti fluktuasi ekonomi dan dinamika geopolitik, perjalanan Wahyudin menunjukkan optimisme yang kuat. Ia adalah contoh nyata dari profesional yang tumbuh dari lantai produksi dan kini menjadi pelopor dalam integrasi QC dengan informatika. Dengan kombinasi pengalaman teknis, kepatuhan pada K3, dan visi digital, ia siap memimpin upaya digitalisasi yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk serta daya saing industri Indonesia di kancah internasional.











