Hesti.id – 28 Juni 2026 | Babak baru rivalitas Jerman vs Rusia, Berlin gerebek WN Rusia terkait sabotase gas. Ketegangan antara Berlin dan Moskow kembali meningkat setelah pemerintah Jerman melakukan penggerebekan di Berlin dan Frankfurt pada Rabu (25/6). Tindakan ini merupakan bagian dari penyelidikan dugaan sabotase terhadap pasokan gas yang melibatkan perusahaan energi Rusia, Gazprom Germania.
Penyelidikan ini dilatarbelakangi oleh proses penjualan Gazprom Germania, yang terjadi tidak lama setelah invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022. Kejaksaan Federal Jerman mengonfirmasi bahwa polisi menggeledah rumah seorang warga negara Rusia yang menjadi tersangka di Berlin, serta lokasi usaha di Frankfurt. Saat ini, belum ada penangkapan yang dilakukan dalam kasus ini.
Menurut jaksa, penyelidikan terfokus pada pelepasan Gazprom Germania dari induk usahanya, Gazprom Rusia, melalui penjualan saham tidak langsung pada akhir Maret 2022. Setelah proses tersebut, kepemilikan perusahaan beralih kepada sebuah perusahaan berbasis di Moskow yang sebelumnya tidak memiliki hubungan dengan industri energi. Pemilik baru kemudian memerintahkan likuidasi Gazprom Germania, yang menjadi perhatian karena perusahaan tersebut menguasai sekitar seperempat kapasitas penyimpanan gas alam Jerman.
Baca juga:
“Tersangka, seorang warga negara Rusia, diduga mendukung pelaksanaan keputusan likuidasi tersebut,” ungkap Kejaksaan Federal dalam keterangannya. Kasus ini menjadi pengingat akan kerentanan hubungan energi antara Jerman dan Rusia, yang telah terjalin selama puluhan tahun. Sebelum perang Ukraina, Rusia merupakan pemasok utama gas bagi Jerman.
Namun, invasi yang dilakukan Rusia mengubah segalanya. Berkurangnya pasokan gas dari Rusia menyebabkan lonjakan harga energi di Eropa dan memaksa Jerman untuk mencari sumber pasokan alternatif dengan cepat. Mantan Kanselir Jerman, Olaf Scholz, menyatakan pada akhir 2022 bahwa negaranya tidak akan lagi bergantung pada satu negara untuk kebutuhan energi strategis. “Kami telah melihat dari Rusia apa artinya bergantung pada sumber daya yang sangat penting secara strategis. Kami tidak akan mengulangi kesalahan itu untuk kedua kalinya,” tegas Scholz.
Di tengah situasi ini, Jerman juga menghadapi tantangan dalam memperkuat kekuatan militernya. Meskipun menargetkan jumlah personel militer mencapai 460 ribu pada tahun 2035, program pendaftaran militer yang diluncurkan pemerintah Jerman hanya berhasil menarik 530 relawan dalam lima bulan pertama. Data ini menunjukkan antusiasme yang rendah di kalangan pemuda untuk bergabung dengan militer, yang menjadi tantangan bagi upaya Berlin dalam membangun kembali kekuatan Bundeswehr di tengah ketegangan yang meningkat di Eropa.
Kementerian Pertahanan Jerman sebelumnya mengungkapkan bahwa program pendaftaran ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah personel aktif dan cadangan, namun hasil awal menunjukkan bahwa hanya sedikit yang bersedia untuk mendaftar. Dari sekitar 298.200 calon rekrutan yang dihubungi, hanya 530 orang yang akhirnya bergabung. Sementara itu, partisipasi perempuan dalam program ini juga sangat rendah, dengan hanya sekitar empat persen dari responden yang bersedia berpartisipasi.
Situasi ini mencerminkan tantangan yang dihadapi Jerman dalam mengatasi ancaman dari Rusia, baik dari segi energi maupun militer. Babak baru rivalitas Jerman vs Rusia, Berlin gerebek WN Rusia terkait sabotase gas, menunjukkan betapa seriusnya Jerman menangani isu keamanan nasional dan ketergantungan energi yang berisiko.











