26/06/2026

Latihan Kedaruratan Radiasi Nuklir Dipimpin Wakil Kepala BRIN di Bandung

Penulis

Pande Tóng

Latihan Kedaruratan Radiasi Nuklir Dipimpin Wakil Kepala BRIN di Bandung
Latihan Kedaruratan Radiasi Nuklir Dipimpin Wakil Kepala BRIN di Bandung

Hesti.id – 26 Juni 2026 | Wakil Kepala BRIN Pimpin Latihan Kedaruratan Radiasi Nuklir Perkuat Koordinasi Lintas Instansi, Laksdya TNI (Purn) Prof. Amarulla Octavian, baru-baru ini memimpin latihan kesiapsiagaan menghadapi bahaya radiasi nuklir di Kawasan Sains Tamansari, Bandung. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis, 25 Juni 2026 ini bertujuan untuk menguji kemampuan dalam menangani situasi kedaruratan radiologi dan nuklir secara efektif.

Latihan ini dirancang dengan tiga skenario bertahap yang mencakup berbagai kemungkinan keadaan darurat. Setiap skenario bertujuan untuk menguji keterampilan petugas dalam proses mulai dari deteksi awal hingga pemulihan pasca insiden. Prosedur yang diuji mencakup pelaporan, pengamanan lokasi, evakuasi korban, penanganan paparan radiasi, serta dekontaminasi, yang semuanya dilakukan dalam kerangka koordinasi lintas instansi.

Dalam kegiatan ini, BRIN bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), TNI, Polri, Dinas Pemadam Kebakaran Provinsi Jawa Barat, Rumah Sakit Hasan Sadikin, serta berbagai unit di BRIN lainnya. Kehadiran Tenaga Ahli Utama Kepala BRIN, Chichi Shintia Laksani, dan Direktur Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran, Dr. R. Mohammad Subekti, menambah bobot pentingnya kolaborasi ini.

Prof. Amarulla Octavian menekankan bahwa latihan ini lebih dari sekadar memenuhi aturan regulasi. Menurutnya, ini merupakan investasi strategis untuk membangun budaya keselamatan di lingkungan BRIN. “Kesiapan sumber daya manusia, kecepatan pengambilan keputusan, serta ketepatan komunikasi adalah kunci dalam meminimalkan risiko insiden radiasi,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya latihan berkala yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

Selama latihan, seluruh tahapan berlangsung sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Proses dimulai dengan identifikasi kejadian, aktivasi organisasi tanggap darurat, pelaporan berjenjang, hingga isolasi area dan evakuasi korban. Pengukuran radiasi, dekontaminasi, penanganan medis, serta deklarasi kondisi aman juga menjadi bagian dari rangkaian latihan ini. Hal ini menunjukkan bahwa respons cepat, koordinasi terpadu, serta keselamatan personel dan masyarakat adalah prinsip-prinsip utama dalam penanganan kedaruratan nuklir.

Latihan ini ditutup dengan evaluasi bersama untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki, meningkatkan interoperabilitas antarinstansi, serta memperkuat kapasitas nasional dalam menghadapi potensi kedaruratan radiasi dan nuklir. Secara keseluruhan, kegiatan ini berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar, menunjukkan komitmen BRIN dan mitra-mitranya dalam menjaga standar keselamatan nuklir.

Dengan adanya latihan ini, BRIN berharap dapat melindungi masyarakat dan lingkungan, serta mendukung keberlangsungan kegiatan riset nasional. Kesiapsiagaan yang dibangun melalui latihan ini diharapkan dapat menjadi langkah preventif yang efektif dalam menghadapi kemungkinan insiden di masa depan.

Related Post

Tinggalkan komentar