8 Juli 2026

Kartu Merah Jarell Quansah: Tuchel dan Harapan Banding setelah Intervensi Trump

Penulis

Supala Dean Supala

Kartu Merah Jarell Quansah: Tuchel dan Harapan Banding setelah Intervensi Trump
Kartu Merah Jarell Quansah: Tuchel dan Harapan Banding setelah Intervensi Trump

Hesti.id – 08 Juli 2026 | Thomas Tuchel tanggapi soal Trump bisa bantu hapus skorsing kartu merah bek Inggris Quansah. Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) kini tengah mempertimbangkan untuk mengajukan banding terhadap kartu merah yang diterima oleh Jarell Quansah saat laga melawan Meksiko di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Insiden ini terjadi pada 5 Juli 2026, di mana Quansah yang bermain sebagai bek, diusir dari lapangan setelah melakukan tekel keras terhadap pemain Meksiko, Jesus Gallardo.

Keputusan wasit Alireza Faghani untuk memberikan kartu merah diambil setelah peninjauan Video Assistant Referee (VAR), yang menunjukkan bahwa tekel tersebut berbahaya. Akibat kartu merah tersebut, Quansah diperkirakan akan absen pada pertandingan perempat final melawan Norwegia. Namun, harapan muncul bagi Inggris setelah FIFA mencabut skorsing otomatis Folarin Balogun, penyerang tim nasional AS, yang juga menerima kartu merah di pertandingan sebelumnya.

Keputusan FIFA untuk mencabut skorsing Balogun pada 5 Juli dianggap sebagai langkah yang langka dan memicu perdebatan tentang konsistensi dalam penegakan disiplin di turnamen bergengsi ini. Hal ini telah mendorong FA untuk mempertimbangkan langkah serupa untuk Quansah, dengan harapan bahwa situasi yang mirip dapat memberikan kesempatan bagi pemain muda tersebut untuk berlaga di perempat final.

Thomas Tuchel, pelatih timnas Inggris, memberikan tanggapan tentang situasi ini dengan nada yang sedikit bercanda. Ia mengatakan, “Mungkin, itu bisa menjadi titik awal yang baik,” merujuk pada kemungkinan bahwa Harry Kane, kapten tim, bisa melobi Presiden Trump untuk membantu membatalkan skorsing Quansah. Tuchel menekankan pentingnya konsistensi dalam keputusan disipliner, terutama menjelang pertandingan krusial melawan Norwegia.

Presiden AS, Donald Trump, juga terlibat dalam kontroversi ini setelah secara langsung menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meminta peninjauan terhadap kartu merah Balogun. Trump mengakui bahwa ia tidak memahami sepenuhnya aturan kartu merah dalam sepak bola, tetapi tetap berusaha untuk membela pemain AS tersebut. Langkah Trump ini dianggap tidak biasa dan memicu berbagai reaksi dari tim lain, termasuk Belgia, yang merasa keputusan tersebut tidak adil.

Situasi ini jelas menunjukkan bahwa Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang bagi para pemain untuk bersaing di lapangan, tetapi juga arena bagi intervensi politik yang dapat memengaruhi keputusan di luar permainan. FA kini berada dalam posisi sulit, di satu sisi ingin membela pemainnya, tetapi di sisi lain harus menghadapi risiko kontroversi yang mungkin muncul jika banding mereka tidak berhasil.

Dengan adanya preseden yang ditetapkan oleh kasus Balogun, FA kini sedang mengkaji berbagai opsi untuk mengajukan banding, berharap bisa mendapatkan hasil yang sama untuk Quansah. Jika banding ini berhasil, kemungkinan besar Quansah akan dapat bergabung kembali dengan skuad Inggris saat menghadapi Norwegia, yang merupakan salah satu pertandingan paling penting dalam perjalanan mereka di Piala Dunia kali ini.

Semua mata kini tertuju pada keputusan yang akan diambil oleh FA dan bagaimana pengaruh dari intervensi Trump akan berdampak pada pertandingan mendatang. Apakah langkah ini akan menciptakan preseden baru dalam sejarah sepak bola internasional? Hanya waktu yang akan menjawab.

Related Post

Tinggalkan komentar