Hesti.id – 08 Juli 2026 | Pembangunan pabrik amunisi PT Pindad yang mampu memproduksi 85 juta butir per tahun di Batulicin, Kalimantan Selatan, resmi dimulai dengan acara groundbreaking yang dipimpin oleh Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin. Acara tersebut berlangsung pada Sabtu, 4 Juli 2026, dan dihadiri oleh berbagai tokoh penting, termasuk Direktur Utama PT Pindad, Sigit P. Santosa, serta pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, atau yang lebih dikenal dengan Haji Isam.
Lokasi pabrik yang dibangun di Kabupaten Tanah Bumbu ini terletak di lahan seluas 30 hektare dan dipilih karena beberapa alasan strategis. Faktor-faktor seperti ketersediaan lahan, akses logistik yang baik, serta dukungan infrastruktur yang memadai menjadi pertimbangan utama dalam penentuan lokasi. Dengan keberadaan pabrik baru ini, PT Pindad kini memiliki tiga lokasi produksi utama, termasuk di Bandung dan Turen.
Sigit P. Santosa, dalam pernyataannya, menekankan bahwa pembangunan pabrik amunisi ini merupakan langkah penting untuk meningkatkan kemandirian industri pertahanan nasional. “Pembangunan fasilitas produksi ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan nasional dalam memenuhi kebutuhan pertahanan, serta meningkatkan daya saing industri strategis di dalam negeri,” ujarnya.
Baca juga:
Menteri Pertahanan juga menekankan bahwa proyek ini tidak akan terwujud tanpa dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan TNI. “Pabrik ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan mengembangkan sumber daya manusia,” tambah Sjafrie.
Pembangunan pabrik amunisi PT Pindad di Batulicin adalah bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat kemandirian alat peralatan pertahanan dan keamanan (alpalhankam). Hal ini sejalan dengan kebijakan Kementerian Pertahanan yang berfokus pada pengurangan ketergantungan terhadap pasokan amunisi dari luar negeri.
Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait, menjelaskan bahwa pembangunan pabrik ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesiapan dukungan logistik pertahanan Indonesia. “Dengan kapasitas produksi yang meningkat, kami berharap dapat mengurangi ketergantungan pada pasokan luar negeri dan memperkuat kapasitas produksi munisi nasional,” katanya.
Dalam konteks yang lebih luas, keberadaan pabrik ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi amunisi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi pembangunan daerah, dengan meningkatkan aktivitas ekonomi dan menciptakan lapangan kerja baru. Dengan pembangunan ini, PT Pindad bangun pabrik amunisi 85 juta butir per tahun di Batulicin akan menjadi tonggak penting dalam sejarah industri pertahanan Indonesia.
Secara keseluruhan, langkah ini mencerminkan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat kemandirian bangsa melalui pengembangan kapasitas industri strategis dalam negeri yang mampu mendukung kepentingan pertahanan dan pembangunan nasional secara berkesinambungan.











