30 Juni 2026

UNS Sosialisasikan Riset Pendidikan Inklusi di Surakarta

UNS Sosialisasikan Riset Pendidikan Inklusi di Surakarta
UNS Sosialisasikan Riset Pendidikan Inklusi di Surakarta

Hesti.id – 30 Juni 2026 | Surakarta, JurnalPost.com – Tim Hibah Pembelajaran Berdampak UNS Sosialisasikan Hasil Riset Pendidikan Inklusi di Surakarta menggelar kegiatan sosialisasi tentang implementasi pendidikan inklusi. Acara ini berlangsung di Taman Cerdas, Kecamatan Jebres, Surakarta, pada Rabu, 24 Juni 2026, dari pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Kegiatan ini bertujuan untuk memaparkan hasil penelitian yang telah dilakukan selama enam bulan di enam sekolah berbeda, termasuk tingkat SD, SMP, hingga SMA, baik negeri maupun swasta.

Dipimpin oleh Rama Aji Prasetya, mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Sosiologi Antropologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS, tim peneliti yang terdiri dari tujuh anggota ini, yaitu Michelle Diva Shatrani, Muhammad Aji Saputra, Muhammad Rangga Aji S, Nandina Salsabila, Nurul Wildatun Ath T, dan Swastika Citra Endah P, berhasil mengumpulkan berbagai temuan terkait pendidikan inklusi di Surakarta.

Dalam sosialisasi tersebut, tim memaparkan sejumlah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa dari enam sekolah yang diteliti, tiga di antaranya tidak memiliki Guru Pendamping Khusus (GPK). Hal ini berimplikasi pada kurangnya layanan bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) yang masih sangat bergantung pada guru reguler dan bimbingan konseling.

Penelitian ini juga mencatat bahwa beberapa sekolah sudah melakukan adaptasi kurikulum dan penilaian, seperti penyusunan soal ujian yang terpisah, penggunaan rapor yang berbeda, serta penyesuaian Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) untuk ABK. Dari sisi interaksi sosial, ditemukan bahwa hubungan antara siswa reguler dan ABK cukup positif, di mana budaya saling membantu dan saling menghargai mulai tumbuh, terutama di sekolah-sekolah yang telah lebih lama menerapkan pendidikan inklusi.

Walaupun demikian, implementasi pendidikan inklusi di Surakarta masih menghadapi berbagai tantangan. Di antara tantangan tersebut adalah keterbatasan jumlah GPK, minimnya fasilitas fisik yang ramah disabilitas, serta belum adanya ruang sumber atau resource room. Selain itu, kondisi gedung bertingkat yang belum sepenuhnya aksesibel bagi pengguna kursi roda juga menjadi kendala.

Tim peneliti menyoroti bahwa belum meratanya penerapan kurikulum adaptif di sekolah-sekolah menjadi masalah. Beberapa sekolah masih sangat bergantung pada keberadaan GPK, sementara siswa masih perlu membawa alat bantu sendiri karena fasilitas yang belum memadai.

Dalam forum sosialisasi, tim juga menyampaikan materi mengenai pengertian dan pentingnya pendidikan inklusi, serta landasan hukum yang mendukung seperti UU Nomor 20 Tahun 2003 dan Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009. Mereka menjelaskan beberapa model layanan pendidikan inklusi yang dapat diterapkan, antara lain Program Pembelajaran Individual (PPI), model pull-out, Pelangi Center, program life skill, dan pengembangan diri.

Kegiatan ini dihadiri oleh 20 peserta dari kalangan mahasiswa FKIP UNS. Dalam diskusi tersebut, peserta juga memberikan pandangan pentingnya kolaborasi antara pihak sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan dalam rangka meningkatkan efektivitas implementasi pendidikan inklusi.

Rama Aji Prasetya, ketua tim peneliti, mengungkapkan harapannya agar hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan inklusi di Surakarta. Dia menekankan, “Semoga penelitian yang kami lakukan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pendidikan inklusi di Kota Surakarta.”

Tim juga merekomendasikan agar sekolah yang belum memiliki GPK mendapatkan pelatihan khusus dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan lebih memperhatikan penyediaan fasilitas ramah ABK dan dukungan anggaran bagi sekolah inklusi.

Tim peneliti juga menilai bahwa potensi prestasi dan kepercayaan diri ABK perlu terus dikembangkan, termasuk melalui program pengembangan diri yang lebih sistematis. Beberapa praktik baik dari sekolah yang telah sukses menerapkan GPK dan program-program inklusi lainnya diharapkan bisa menjadi model yang bisa direplikasi di sekolah-sekolah lain.

Hasil penelitian ini rencananya akan dipublikasikan dalam bentuk artikel ilmiah di jurnal terakreditasi Sinta 3. Publikasi tersebut diharapkan bisa menjadi referensi bagi sekolah dan pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pendidikan inklusi yang lebih berpihak kepada peserta didik berkebutuhan khusus.

Related Post

Tinggalkan komentar