Hesti.id – 30 Juni 2026 | PT IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) mencatatkan arus peti kemas tembus 50 ribu TEUs di Terminal Petikemas Panjang hingga bulan Mei 2026. Peningkatan ini sejalan dengan aktivitas perdagangan dan logistik yang semakin meningkat di Provinsi Lampung, yang menjadi salah satu faktor pendorong utama pertumbuhan tersebut.
Sepanjang periode Januari hingga Mei 2026, throughput peti kemas di Terminal Petikemas Panjang mencapai 50.287 TEUs, mengalami kenaikan sebesar 7,40 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar 46.824 TEUs. Capaian ini menempatkan Area Panjang sebagai lokasi dengan pertumbuhan throughput tertinggi kedua di lingkungan IPC TPK hingga Mei 2026.
Daniel Setiawan, Senior Manager Sekretariat Perusahaan IPC TPK, menjelaskan bahwa pertumbuhan ini mencerminkan peningkatan aktivitas distribusi barang dan perdagangan yang dilayani melalui Terminal Petikemas Panjang. “Pertumbuhan throughput di Area Panjang yang berada di atas rata-rata pertumbuhan IPC TPK secara nasional menunjukkan peran strategis terminal dalam mendukung kelancaran arus logistik dan perdagangan di wilayah Lampung. Kami berkomitmen untuk menjaga keandalan layanan agar kebutuhan pengguna jasa terpenuhi secara optimal,” ungkapnya dalam rilis pers.
Baca juga:
Kenaikan arus peti kemas ini didorong oleh meningkatnya ekspor sejumlah komoditas unggulan dari Lampung. Komoditas seperti tapioca starch mengalami pertumbuhan tertinggi dengan persentase 267,37%, diikuti oleh frozen shrimp yang tumbuh 28,90%, nanas sebesar 22,93%, dan refined glycerine yang meningkat 21,90% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi layanan, pertumbuhan terjadi baik pada segmen domestik maupun internasional. Hingga Mei 2026, throughput domestik tercatat mencapai 28.163 TEUs, tumbuh 10,04 persen secara tahunan, sementara throughput internasional mencapai 22.124 TEUs, meningkat 4,21 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, layanan peti kemas modern sangat bergantung pada Teknologi Informasi (TI) untuk mempercepat proses bongkar muat, mengurangi waktu inap (port stay), dan menekan biaya logistik. Digitalisasi operasional ini mencakup berbagai sistem cerdas yang mengintegrasikan seluruh proses kepelabuhanan dari hulu ke hilir.
Tren peningkatan aktivitas perdagangan di Lampung juga tercermin dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pada April 2026, nilai ekspor Provinsi Lampung mencapai US$504,59 juta, melonjak 43,29 persen dibandingkan dengan April 2025. Sementara itu, nilai impor mencapai US$172,40 juta, naik 51,56 persen secara tahunan. Pertumbuhan perdagangan ini turut mendorong peningkatan kebutuhan layanan logistik serta pergerakan peti kemas melalui Terminal Petikemas Panjang.
Untuk mengantisipasi tren peningkatan ini, IPC TPK Panjang terus memperkuat layanan operasional dengan meningkatkan koordinasi bersama berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perusahaan pelayaran hingga pengguna jasa. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kelancaran operasional dan stabilitas layanan di tengah meningkatnya arus barang.
Kinerja Area Panjang juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan IPC TPK secara nasional. Hingga Mei 2026, IPC TPK mencatat throughput sebesar 1,49 juta TEUs, tumbuh 6,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan pertumbuhan trafik yang terus meningkat, IPC TPK Panjang berkomitmen untuk terus meningkatkan keandalan layanan dan kapasitas operasional. Hal ini penting untuk mendukung kelancaran arus perdagangan domestik dan internasional serta memperkuat posisi Lampung sebagai salah satu gerbang logistik strategis di Indonesia.











