27/06/2026

Menlu AS: Negara-negara Teluk Tolak Biaya Tarif atas Selat Hormuz

Penulis

Firdausyah Eblis Kaisar

Menlu AS: Negara-negara Teluk Tolak Biaya Tarif atas Selat Hormuz
Menlu AS: Negara-negara Teluk Tolak Biaya Tarif atas Selat Hormuz

Hesti.id – 27 Juni 2026 | Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, baru-baru ini menyatakan bahwa negara-negara Teluk menolak segala bentuk biaya tarif atas penggunaan Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Dalam pernyataannya di Bahrain, Rubio menegaskan bahwa tidak ada dukungan dari negara-negara Teluk untuk pengenaan biaya atau pungutan atas perairan internasional ini.

Dalam pertemuan yang berlangsung pada 25 Juni 2026, Rubio menyampaikan bahwa negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) sepakat untuk menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. “Kami mengadakan diskusi yang sangat baik, dan negara-negara Teluk menyampaikan sejumlah kekhawatiran terkait situasi keamanan di kawasan ini,” katanya. Menlu AS juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas dan keamanan mitra-mitranya di kawasan Teluk, serta menghindari keputusan yang dapat merugikan mereka.

Selat Hormuz, yang terletak antara Iran dan Oman, merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia, dengan sekitar 20% total perdagangan minyak global melaluinya. Kebebasan navigasi di selat ini menjadi sangat krusial, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam konteks ini, Rubio menegaskan bahwa kebebasan navigasi harus dijamin tanpa syarat atau pembatasan, sesuai dengan hukum internasional.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Energi AS, Chris Wright, melaporkan bahwa lebih dari 70 kapal telah melintas di Selat Hormuz dalam 24 jam terakhir, membawa sekitar 20 juta barel minyak. Namun, insiden dugaan serangan terhadap kapal kargo berbendera Singapura oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran menambah ketegangan di kawasan tersebut. Meskipun tidak ada korban jiwa, kerusakan pada pusat kendali kapal tersebut menunjukkan potensi risiko yang ada di perairan ini.

Oman juga menyatakan komitmennya untuk memastikan navigasi yang bebas dan aman melalui Selat Hormuz. Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr bin Hamad bin Hamood Albusaidi, menegaskan bahwa pengaturan di masa mendatang tidak akan melibatkan pengenaan biaya transit. “Kami bertanggung jawab untuk mendukung upaya internasional dalam mengamankan navigasi maritim di kawasan ini,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan bersama antara AS dan negara-negara GCC menyoroti pentingnya menjaga momentum dalam diplomasi dengan Iran, dengan tujuan untuk mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Teheran. Upaya ini diharapkan dapat menciptakan stabilitas di kawasan dan memastikan keamanan jalur perdagangan energi global.

Sementara itu, pernyataan Menlu AS mengenai penolakan biaya tarif atas Selat Hormuz menunjukkan pentingnya kerjasama internasional dalam menjaga keamanan maritim. Hal ini juga menunjukkan bahwa negara-negara Teluk memiliki sikap yang seragam dalam menolak segala bentuk pungutan yang dapat mengganggu arus perdagangan dan distribusi energi. Dengan situasi yang semakin kompleks, diperlukan dialog yang konstruktif antara semua pihak untuk mencapai solusi yang berkelanjutan.

Related Post

Tinggalkan komentar