Hesti.id – 29 Juni 2026 | Bandar Lampung – Dalam upaya mendukung Program Mandiri Energi Nasional, Holding Perkebunan Nusantara telah menyiapkan lahan seluas 10 ribu hektare untuk budidaya singkong di Provinsi Lampung. Lahan ini tersebar di enam unit kerja, termasuk Kebun Kedaton, Bergen, Way Berulu, Way Lima, Tulungbuyut, dan Bungamayang, dan bertujuan untuk mengembangkan energi baru terbarukan berbasis etanol dari singkong.
Business Support Head PTPN I Regional 7, Iskandar Dewantara, mengungkapkan bahwa pihaknya membuka peluang kerja sama bagi investor dalam rapat percepatan hilirisasi industri singkong yang digelar di Bandar Lampung pada Senin (25/5/2026). Iskandar menekankan komitmen PTPN I dalam mendukung program pemerintah untuk mencapai ketahanan energi nasional.
“Kami siap melaksanakan kebijakan Bapak Presiden dan mengeksekusi di lapangan. Kami punya lahan yang bisa dimanfaatkan untuk program ini seluas kurang lebih 10 ribu hektare di enam kebun yang ada di Lampung,” jelas Iskandar di hadapan puluhan calon investor.
Baca juga:
Rapat yang diadakan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung itu juga dihadiri oleh Kepala Dinas DKPTPH, DR Elvira Umihani, dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Kuswanta. Dalam sambutannya, Elvira menjelaskan bahwa Lampung merupakan sentra utama produksi singkong di Indonesia dengan kontribusi sekitar 62 persen terhadap produksi nasional.
“Ada 72 pabrik tapioka di Lampung yang sebagian besar bahan bakunya dipasok dari petani rakyat. Lebih dari 314 ribu keluarga bergantung pada budi daya singkong, dengan total produksi sekitar 15 juta ton per tahun,” ungkap Elvira.
Meski produksi singkong di wilayah tersebut tergolong tinggi, Elvira mengingatkan pentingnya kepastian pasokan bahan baku untuk industri etanol dalam jangka panjang. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah memberikan mandat kepada Holding Perkebunan Nusantara untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Erwin Sialagan, Ketua Tim Percepatan Hilirisasi Komoditas Ubi Kayu Holding Perkebunan Nusantara, menargetkan implementasi bahan bakar campuran E-20 pada tahun 2028. Ini adalah bensin dengan kandungan etanol sebesar 20 persen dari bahan baku terbarukan, terutama singkong.
“Dari lahan seluas 104 ribu hektare, diharapkan dapat dihasilkan delapan juta kilo liter etanol, dengan 10 ribu hektare harus terealisasi pada tahun 2026,” terang Erwin. Menurutnya, langkah ini akan memastikan pasokan bahan baku untuk industri etanol tidak terputus.
Dengan skema kerja sama yang ditawarkan, PTPN Holding menyediakan lahan, sedangkan mitra usaha bertanggung jawab atas budidaya, pembiayaan, teknologi, hingga pemilihan varietas tanaman. “Model kerja sama ini adalah KSU (Kerja Sama Usaha) yang memungkinkan investor untuk mengambil peran aktif dalam pengembangan budidaya singkong,” tambah Erwin.
Sesi diskusi pasca-pemaparan menunjukkan antusiasme tinggi dari para investor. Mereka melihat potensi besar dalam program pengembangan etanol berbasis singkong, yang dapat memberikan kepastian pasar dan meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kami menyambut baik program ini. Harga singkong saat ini cukup baik, bahkan mencapai Rp2.000 per kilo. Dengan adanya program ketahanan energi ini, kami berharap harga tetap stabil dan petani singkong bisa sejahtera,” kata Jamsari, salah satu pengurus kelompok tani yang hadir.
Inisiatif ini merupakan langkah strategis dari Holding Perkebunan Nusantara untuk mendukung program ketahanan energi nasional dan meningkatkan hilirisasi komoditas pertanian. Dengan pengembangan ekosistem industri etanol berbasis singkong yang berkelanjutan, diharapkan kesejahteraan masyarakat akan meningkat.











