8 Juli 2026

Yen Jatuh ke Level Terlemah Sejak 1986, Jepang Siaga Krisis

Penulis

Igone Shayleigh Igone

Yen Jatuh ke Level Terlemah Sejak 1986, Jepang Siaga Krisis
Yen Jatuh ke Level Terlemah Sejak 1986, Jepang Siaga Krisis

Hesti.id – 08 Juli 2026 | Nilai tukar yen Jepang kembali menjadi sorotan dunia setelah terjun bebas hingga mencapai ¥162,66 per dolar Amerika Serikat (AS), level terendah yang belum pernah terjadi sejak 1986. Yen tembus level terlemah sejak 1986, Jepang siaga penuh hadapi krisis ini disebabkan oleh selisih suku bunga antara Jepang dan AS serta lonjakan harga minyak yang menekan ekonomi nasional.

Pemerintah Jepang merespons situasi ini dengan menggelontorkan sekitar Rp1.180 triliun untuk intervensi pasar, berupaya menahan pelemahan yen dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global. Meskipun ada intervensi, pelemahan yen juga membawa beberapa keuntungan, terutama dalam sektor ekspor dan pariwisata.

Namun, dampak dari nilai tukar yen yang melemah ini tidak bisa diabaikan. Kenaikan harga barang dan biaya impor menjadi perhatian utama masyarakat Jepang, terutama dengan adanya subsidi yang diberikan oleh pemerintah. Hal ini menciptakan ketidakpastian dalam perekonomian domestik.

Perbedaan suku bunga antara Bank of Japan (BoJ) dan Federal Reserve AS menjadi salah satu faktor utama penyebab melemahnya yen. Meskipun BoJ telah menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1 persen, angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan suku bunga di AS. Hal ini menarik perhatian investor untuk meminjam yen dengan bunga rendah dan mengalihkan dananya ke investasi yang lebih menguntungkan di luar Jepang.

Menurut analis pasar Axel Rudolph dari IG, ekspektasi kenaikan suku bunga AS semakin memperlebar selisih kebijakan moneter antara kedua negara, sehingga dolar semakin diminati. Situasi ini membuat pemerintah Jepang berada di posisi sulit. Jika BoJ menaikkan suku bunga secara agresif untuk memperkuat yen, hal ini berpotensi meningkatkan biaya pinjaman dan memperlambat pertumbuhan ekonomi domestik.

Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi faktor penekan bagi yen. Jepang bergantung pada impor energi, dengan sekitar 95 persen pasokan minyaknya berasal dari Timur Tengah. Ketegangan antara AS, Israel, dan Iran yang mempengaruhi stabilitas pasokan energi global telah menyebabkan lonjakan harga minyak. Karena minyak diperdagangkan dalam dolar AS, Jepang harus menukarkan lebih banyak yen untuk mendapatkan jumlah minyak yang sama, yang pada gilirannya meningkatkan biaya impor energi.

Akibatnya, biaya produksi berbagai sektor industri juga meningkat, yang berdampak langsung pada masyarakat melalui kenaikan harga barang dan jasa. Namun, di balik semua itu, ada sisi positif dari melemahnya yen. Produk-produk Jepang menjadi lebih murah di pasar internasional, yang meningkatkan daya saing eksportir Jepang, terutama di sektor otomotif, elektronik, dan industri manufaktur lainnya.

Sektor pariwisata juga menikmati keuntungan besar dari situasi ini. Dengan nilai tukar yen yang lebih rendah, wisatawan asing berbondong-bondong datang ke Jepang, karena biaya belanja, penginapan, dan liburan menjadi lebih terjangkau dibandingkan negara asal mereka.

Dengan berbagai faktor yang memengaruhi nilai tukar yen dan dampaknya terhadap ekonomi Jepang, pemerintah dan Bank of Japan harus tetap waspada dan siap mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas. Yen tembus level terlemah sejak 1986, Jepang siaga penuh hadapi krisis ini adalah tantangan besar yang harus dihadapi oleh negara tersebut dalam waktu dekat.

Related Post

Tinggalkan komentar