Hesti.id – 30 Juni 2026 | Indonesia kini tengah berjuang menghadapi masalah serius yang sering kali tidak terlihat, yaitu krisis kelaparan tersembunyi. Fenomena ini, yang dipicu oleh defisiensi zat besi kronis, telah menyebabkan lonjakan kasus anemia di berbagai daerah. Para pakar kesehatan publik menilai bahwa fortifikasi beras massal jadi solusi atasi krisis kelaparan tersembunyi, dan upaya ini menjadi sangat krusial untuk meningkatkan status gizi masyarakat.
Pada Rabu, 24 Juni 2026, sebuah pertemuan lintas pemangku kepentingan bertajuk “Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market” diadakan di Jakarta. Pertemuan ini bertujuan untuk mengumpulkan berbagai pelaku dari sektor swasta dalam diskusi mengenai langkah-langkah konkret untuk menyediakan beras yang terfortifikasi dan lebih terjangkau bagi masyarakat.
Dalam pidato kuncinya, Direktur Yayasan Kegizian Pengembangan Fortifikasi Pangan Indonesia (KFI), Nina Sarjunani, menggarisbawahi pentingnya intervensi melalui bahan pangan pokok untuk mengatasi masalah ini. Ia menjelaskan bahwa selama ini upaya untuk mengurangi kekurangan mikronutrien dilakukan melalui tiga pendekatan utama: diversifikasi pangan, suplementasi, dan fortifikasi. Meskipun diversifikasi pangan dianggap ideal, pendekatan ini sulit diterapkan, terutama bagi kelompok masyarakat yang tidak mampu membeli variasi sumber nutrisi.
Baca juga:
“Suplementasi juga memiliki tantangan tersendiri, karena tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi suplemen masih rendah. Oleh karena itu, fortifikasi menjadi pilihan yang paling cost-effective,” jelas Nina. Indonesia telah berhasil melakukan fortifikasi pada beberapa produk, seperti garam beryodium dan tepung terigu yang diperkaya zat besi. Namun, ia menekankan bahwa tepung terigu bukanlah makanan pokok masyarakat Indonesia, sehingga perhatian harus dialihkan ke beras, yang dikonsumsi oleh 95 persen penduduk.
Fortifikasi beras menawarkan intervensi dengan hambatan yang minim, karena masyarakat tetap dapat memasak dan mengonsumsi nasi seperti biasa sambil mendapatkan tambahan zat besi dan mikronutrien penting lainnya. Peningkatan gizi yang dihasilkan dari fortifikasi ini bisa sangat signifikan, dengan tambahan biaya produksi sekitar Rp 1.000 per kilogram.
Namun, tantangan dalam memperluas skala fortifikasi beras di Indonesia tidaklah kecil. Budianto Wijaya, anggota komite penasihat Millers for Nutrition, menyatakan bahwa sektor penggilingan padi di Indonesia sangat terfragmentasi, dengan banyak operator dari skala besar hingga kecil. Hal ini menciptakan tantangan dalam hal regulasi, pengawasan mutu, dan distribusi yang seragam.
Saat ini, beras fortifikasi masih dianggap sebagai barang mewah dan hanya tersedia di supermarket premium, sehingga aksesnya terbatas bagi kelompok masyarakat tertentu. Oleh karena itu, penting untuk menjangkau kelompok rentan melalui program bantuan pangan pemerintah dan intervensi kesehatan, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Nina juga menegaskan pentingnya mengedukasi masyarakat untuk mengatasi mitos dan disinformasi yang beredar, termasuk isu hoaks mengenai “beras plastik” yang pernah merusak kepercayaan konsumen. Selain itu, harga beras fortifikasi sering kali dianggap terlalu tinggi, karena sering kali diproduksi dari bahan baku beras premium.
Pembangunan industri Fortified Rice Kernels (FRK) dan penguatan penggilingan padi menjadi beberapa usulan untuk memperluas distribusi beras fortifikasi. Forum yang diadakan ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara pelaku penggilingan padi, ritel modern, dan pegiat fortifikasi gizi agar dapat saling bekerja sama.
Evelyn Djuwidja, Program Manager TechnoServe Indonesia, menilai pertemuan ini adalah langkah penting untuk membuka peluang kerjasama antara penggilingan padi dan ritel modern. “Millers for Nutrition berkomitmen untuk mendampingi penggilingan padi dalam menjaga kualitas gizi produk dan efisiensi produksi,” pungkasnya.











