28 Juni 2026

Rupiah Tembus Rp 17.990 per Dolar AS, Faktor Penyebabnya Terungkap

Penulis

Qhadapi Ranolph Jehoichin

Rupiah Tembus Rp 17.990 per Dolar AS, Faktor Penyebabnya Terungkap
Rupiah Tembus Rp 17.990 per Dolar AS, Faktor Penyebabnya Terungkap

Hesti.id – 28 Juni 2026 | Pagi ini, rupiah melemah ke level Rp 17.990 per dolar AS, sebuah perkembangan yang menunjukkan tantangan bagi perekonomian Indonesia. Pada perdagangan yang berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2026, pukul 10.27 WIB, kurs rupiah tercatat mengalami penurunan sebesar 36 poin atau setara dengan 0,20 persen.

Menurut Myrdal Gunarto, Chief Economist BTN, situasi ini tidak hanya dialami oleh rupiah, tetapi juga beberapa mata uang lain di kawasan Asia Tenggara. Misalnya, dolar Singapura mengalami pelemahan sebesar 0,08 persen menjadi 1,29 per dolar AS, sedangkan baht Thailand melemah 0,24 persen ke level 33,410.

“Kita juga tidak seburuk Korean won dan Thailand baht untuk pelemahan hari ini,” ujar Myrdal. Dia menjelaskan bahwa penguatan dolar AS secara regional turut berkontribusi terhadap kondisi ini. Selain itu, investor global saat ini sedang melakukan profit taking, yang memicu permintaan dolar AS yang lebih tinggi.

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi nilai tukar rupiah adalah peringatan yang disampaikan oleh MSCI. Meskipun peringkat investasi Indonesia tetap sama, proporsi investasi dari MSCI untuk Indonesia telah mengalami penurunan signifikan.

“Permintaan valas yang tinggi di akhir bulan untuk pembiayaan impor, terutama impor barang dan bahan baku untuk manufaktur serta bahan bakar minyak (BBM), juga memberikan dampak besar,” tambah Myrdal. Ia juga menyebutkan bahwa pembayaran utang luar negeri yang rutin dilakukan di akhir bulan berperan dalam tingginya permintaan valas ini.

Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa kondisi ini adalah gambaran yang lebih luas dari tantangan yang dihadapi ekonomi Indonesia saat ini. Rangkaian faktor, mulai dari dinamika pasar global hingga keadaan ekonomi domestik, berkontribusi terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.

Dalam konteks yang lebih luas, pelemahan rupiah ini dapat mempengaruhi inflasi dan daya beli masyarakat. Ketika nilai tukar melemah, harga barang impor cenderung meningkat, yang bisa menambah tekanan inflasi. Hal ini tentu menjadi perhatian bagi pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Pasar saham juga merespons dengan hati-hati terhadap penguatan dolar AS dan pelemahan mata uang lokal. Investor sedang menunggu kebijakan dari Bank Indonesia terkait suku bunga dan langkah-langkah lainnya untuk mengatasi volatilitas ini.

Ke depan, penting bagi pemerintah dan otoritas terkait untuk melakukan langkah-langkah strategis guna mempertahankan nilai tukar rupiah di level yang lebih stabil. Hal ini akan melibatkan koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang tepat serta upaya untuk menarik investasi asing.

Secara keseluruhan, rupiah melemah ke level Rp 17.990 per dolar AS pagi ini [titlebase] mencerminkan tantangan yang lebih besar di pasar global dan domestik. Observasi dan analisis yang lebih mendalam menjadi kunci untuk memahami dan mengatasi dinamika ini di masa depan.

Related Post

Tinggalkan komentar