Hesti.id – 28 Juni 2026 | Perang berbalik gerogoti Putin, eks penasihat Bank Sentral Rusia dan profesor Oxford angkat bicara mengenai dampak serius yang ditimbulkan oleh invasi Rusia ke Ukraina. Menurut mereka, konflik yang berkepanjangan ini mulai menggerogoti fondasi kekuasaan Presiden Vladimir Putin dan menciptakan ketidakpuasan di kalangan publik serta elite politik.
Alexandra Prokopenko, mantan penasihat Bank Sentral Rusia, dan Peter Frankopan, profesor sejarah global di Universitas Oxford, menyatakan bahwa meningkatnya biaya perang dan tekanan terhadap ekonomi Rusia menjadi sinyal awal melemahnya daya tahan rezim Kremlin. Dalam pandangan Prokopenko yang dimuat di Financial Times, perang ini memaksa Kremlin untuk meninggalkan disiplin fiskal yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama ekonomi Rusia.
Sejak dimulainya konflik, pemerintah Rusia telah mengubah berbagai aturan anggaran untuk memastikan pendanaan perang tetap berjalan. Salah satu langkah paling mencolok adalah pemberian kewenangan lebih kepada Kementerian Keuangan untuk meningkatkan belanja negara dan menambah utang tanpa harus menunggu pengesahan anggaran baru. Hal ini menunjukkan bahwa Kremlin berusaha keras untuk menjaga stabilitas keuangan meskipun dalam kondisi yang sulit.
Baca juga:
Data menunjukkan bahwa hingga Mei, defisit anggaran Rusia mencapai sekitar 2,6 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau sekitar 83 miliar dolar AS. Angka ini dua kali lipat dari defisit yang diperkirakan untuk tahun 2025. Sementara itu, Dana Kekayaan Nasional Rusia, yang seharusnya menjadi bantalan fiskal, terus menyusut akibat digunakan untuk menutupi kekurangan anggaran. Prokopenko mencatat, “Otokrasi yang terpojok sedang menulis ulang aturan fiskal sambil mengabaikan parlemen dan menolak mengakui bahaya yang semakin sulit dikendalikan. Ini mungkin tidak sedramatis kudeta, tetapi beginilah kemunduran sebuah rezim dimulai.”
Di sisi lain, tekanan dari serangan Ukraina juga semakin meningkat. Serangan pesawat nirawak Ukraina dilaporkan semakin sering menjangkau wilayah Rusia, termasuk fasilitas industri penting seperti kilang minyak dan lokasi pertahanan. Jumlah korban di pihak militer Rusia terus bertambah, dan biaya kompensasi bagi keluarga prajurit yang gugur juga semakin membengkak.
Kondisi ekonomi dalam negeri pun menunjukkan tanda-tanda krisis. Kelangkaan bahan bakar menyebabkan antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar, sementara inflasi dan suku bunga yang tinggi semakin membebani masyarakat Rusia. Prokopenko menegaskan, Kremlin kini tidak lagi mampu menjalankan tiga target sekaligus, yaitu membiayai perang, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan pertumbuhan ekonomi.
Secara keseluruhan, situasi ini menciptakan ketidakpastian besar di kalangan elite dan masyarakat Rusia. Munculnya ketidakpuasan ini berpotensi memicu keretakan dalam lingkaran kekuasaan Putin, meskipun saat ini ia masih memegang kendali. Jika tekanan ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan bahwa perubahan besar dalam struktur kekuasaan di Rusia akan terjadi. Perang berbalik gerogoti Putin, eks penasihat Bank Sentral Rusia dan profesor Oxford angkat bicara, menjadi pengingat bahwa kekuasaan yang tampak stabil dapat sangat rentan terhadap perubahan yang dipicu oleh kondisi ekonomi yang memburuk.











