Hesti.id – 27 Juni 2026 | Sinergi Kemlu dan PIS berhasil kawal kapal Gamsunoro di Selat Hormuz, sebuah pencapaian penting di tengah ketegangan geopolitik yang melanda kawasan tersebut. Kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) ini berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu, 24 Juni 2026, setelah terjebak akibat konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran sejak awal Maret 2026.
Kapal Gamsunoro menempuh perjalanan selama 16 jam dari Teluk Arab dengan kecepatan 7,5 knot. Ia tiba di mulut Selat Hormuz pada pukul 16.00 WIB dan berhasil mencapai titik aman empat jam kemudian. Keberhasilan ini berkat koordinasi intensif antara Kementerian Luar Negeri RI, Kedutaan Besar RI di Tehran, dan PIS yang terus memantau situasi di lapangan selama 24 jam penuh.
Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan terima kasih atas dukungan dari Kemlu dan KBRI Tehran. “Kami berterima kasih kepada Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Tehran, Iran, atas dukungannya selama ini,” ujarnya. Vega menjelaskan bahwa keputusan untuk melintas diambil setelah melalui pembahasan risk assessment yang ketat dan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri.
Baca juga:
Selama pelayaran, kondisi kapal dimonitor secara terus-menerus. Tim krisis dari PIS bekerja sama dengan otoritas terkait untuk memastikan keamanan kapal dan awaknya. Vega menambahkan bahwa sebelum keberangkatan, PIS telah mencatat puluhan persyaratan yang harus dipenuhi, mulai dari aspek asuransi, teknis, operasional, hingga kesiapan kru.
Di sisi lain, kapal Pertamina lainnya, VLCC Pertamina Pride, saat ini masih berada di Selat Hormuz dan tengah bersiap untuk melintas. Komisaris Utama PT Pertamina, Mochamad Iriawan, mengungkapkan bahwa perusahaan terus melakukan monitoring secara intensif terhadap kapal tersebut. “Kami sedang mengevaluasi perkembangan situasi keamanan dan rekomendasi internasional sebelum melanjutkan pelayaran,” ujarnya.
Seiring dengan penundaan rencana evakuasi lebih dari 11.000 pelaut yang terjebak di Selat Hormuz akibat serangan sebuah kapal kargo, keselamatan pelaut menjadi prioritas utama. Kepala International Maritime Organization (IMO), Arsenio Dominguez, menegaskan bahwa evakuasi akan dihentikan sementara hingga ada kepastian jaminan keselamatan.
Insiden serangan terhadap kapal berbendera Singapura, Ever Lovely, di kawasan tersebut memicu kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi perdagangan energi dunia. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam insiden itu, situasi di kawasan tetap memprihatinkan.
Dengan keberhasilan kapal Gamsunoro melintasi Selat Hormuz, sinergi Kemlu dan PIS berhasil menunjukkan bahwa kerjasama yang baik antara kementerian dan perusahaan dapat menghasilkan solusi efektif dalam situasi krisis. Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pengelolaan situasi serupa di masa depan, dan semoga kapal VLCC Pertamina Pride juga segera bisa lepas dan kembali ke Indonesia dengan aman.











