3 Juli 2026

Koperasi Desa Merah Putih: Kontroversi Lokasi di Tengah Tambak

Koperasi Desa Merah Putih: Kontroversi Lokasi di Tengah Tambak
Koperasi Desa Merah Putih: Kontroversi Lokasi di Tengah Tambak

Hesti.id – 03 Juli 2026 | Viral bangunan KDMP di tengah tambak, kepala desa sebut sudah melalui musdes. Keberadaan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di beberapa daerah, seperti Kabupaten Pati dan Lebak, menjadi sorotan publik. Lokasi yang dipilih untuk koperasi ini dianggap tidak strategis karena jauh dari permukiman warga, sehingga menimbulkan berbagai protes dari masyarakat.

Di Desa Langgenharjo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, KDMP dibangun di tengah kawasan tambak ikan. Lokasi tersebut berjarak antara 150 hingga 300 meter dari rumah warga, dan akses jalan menuju koperasi sebagian besar masih berupa tanah. Warga mengungkapkan kekhawatiran mereka bahwa keberadaan koperasi ini tidak akan efektif jika masyarakat kesulitan untuk menjangkaunya. Salah satu warga, Didik Mulyono, menyatakan bahwa lokasi koperasi seharusnya lebih dekat dengan aktivitas warga agar dapat berfungsi sebagai pusat pelayanan ekonomi.

Pemerintah Desa Langgenharjo menjelaskan bahwa keputusan lokasi pembangunan KDMP telah melalui musyawarah desa (musdes) dan disetujui oleh masyarakat. Kepala Desa Rustamaji mengungkapkan bahwa lahan yang dipilih merupakan aset desa dan telah direncanakan sebagai bagian dari pengembangan kawasan ekonomi berbasis wisata.

Sementara itu, di Desa Girimukti, Kabupaten Lebak, lokasi KDMP juga menjadi perbincangan hangat. Koperasi ini terletak jauh dari permukiman, dengan akses yang sulit, sehingga banyak warga mempertanyakan siapa yang akan berbelanja di koperasi tersebut. Dalam kunjungan ke lokasi, terlihat bahwa bangunan koperasi tidak berada di tepi jalan utama, dan jarak dari jalan raya bisa mencapai 1 kilometer. Kondisi jalan yang berbatu dan rusak menambah kesulitan bagi pengunjung yang ingin menjangkau KDMP.

Pihak kementerian terkait, seperti Menteri Koperasi Ferry Juliantono, menanggapi berbagai keluhan ini. Ia menyatakan bahwa dari sekitar 20 ribu koperasi yang dibangun, hanya sepuluh unit yang lokasinya dianggap kurang ideal. Ferry menegaskan bahwa laporan-laporan yang viral di media sosial tidak dapat dijadikan gambaran umum dari keseluruhan program. Pemerintah berkomitmen untuk menindaklanjuti setiap laporan dan mencari solusi bersama masyarakat dan kepala desa.

Di tengah kontroversi ini, muncul pula informasi yang menyebutkan bahwa video yang beredar mengenai calon manajer Kopdes Merah Putih yang merayap di got dan mengangkat senjata adalah hoaks. Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa video tersebut salah pengertian dan tidak ada hubungannya dengan program KDMP.

Viral bangunan KDMP di tengah tambak, kepala desa sebut sudah melalui musdes, menunjukkan adanya dualisme pandangan antara pemerintah dan masyarakat. Di satu sisi, pemerintah optimis bahwa koperasi ini akan menjadi pusat ekonomi baru dan bahkan destinasi wisata, namun di sisi lain, masyarakat merasa lokasi yang dipilih tidak mendukung keberhasilan program ini. Dengan adanya protes dan keluhan, diharapkan pemerintah dapat mengevaluasi kembali lokasi dan aksesibilitas KDMP agar benar-benar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Related Post

Tinggalkan komentar