Hesti.id – 03 Juli 2026 | Iran akan gunakan aset yang dibekukan di Qatar, JD Vance sempat sarankan untuk beli barang-barang AS [titlebase]. Pertemuan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat (AS) di Doha, Qatar, pada Rabu (1/7/2026) menjadi sorotan utama dunia internasional. Dalam perundingan ini, fokus utama adalah pencairan aset Iran senilai 6 miliar dolar AS (setara dengan Rp107,8 triliun) yang selama ini terjebak akibat sanksi.
Berdasarkan laporan, kedua negara belum mencapai kesepakatan konkret, namun ada kemajuan yang dianggap positif. Kementerian Luar Negeri Qatar, yang bertindak sebagai mediator, menyatakan bahwa pertemuan tersebut mencakup pembahasan mengenai pelayaran di Selat Hormuz dan pencairan dana Iran yang dibekukan. Dalam konteks ini, Iran berharap dapat segera menggunakan sebagian dari dana tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestiknya.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menjelaskan bahwa pertemuan dengan pihak Qatar telah membahas mekanisme penggunaan dana tersebut. “Kami akan menggunakan sebagian dari dana awal sebesar 6 miliar dolar AS untuk membeli barang-barang yang diperlukan sesuai kebutuhan yang telah disampaikan Iran,” ujarnya. Namun, Gharibabadi menegaskan bahwa pengaturan ini tidak secara langsung terkait dengan kesepakatan yang lebih luas dengan AS.
Baca juga:
Di sisi lain, JD Vance, Wakil Presiden AS, sempat menyarankan untuk memanfaatkan sebagian dana yang dibekukan untuk membeli barang-barang dari Amerika Serikat, seperti gandum dan kedelai. Saran ini diharapkan dapat membantu mengatasi kekurangan pangan di Iran dan sekaligus membuka pasar baru bagi petani AS.
Dalam perundingan ini, kedua belah pihak juga sepakat untuk membentuk saluran komunikasi khusus guna memantau pelanggaran terhadap nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani sebelumnya. MoU ini mencakup berbagai isu penting, termasuk gencatan senjata dan program nuklir Iran.
Namun, meskipun ada kemajuan, situasi di Selat Hormuz tetap tegang. Dalam beberapa waktu terakhir, terjadi insiden serangan terhadap kapal kargo yang melintasi perairan tersebut, yang semakin memperumit hubungan antara kedua negara. AS dan Iran sepakat untuk melanjutkan perundingan ini setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang dijadwalkan pada 9 Juli mendatang.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan bahwa Iran siap untuk bertemu kembali dengan mediator dalam upaya melaksanakan MoU tersebut. “Proses diplomatik ini tidak akan mudah, namun kami berharap dapat mencapai kesepakatan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak,” ujarnya.
Dalam konteks ini, pencairan aset senilai 6 miliar dolar AS menjadi sangat penting bagi Iran, terutama untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Dengan adanya perundingan ini, masyarakat Iran berharap ada peningkatan dalam kondisi ekonomi mereka setelah mengalami dampak negatif dari sanksi internasional yang berkepanjangan.
Secara keseluruhan, Iran akan gunakan aset yang dibekukan di Qatar untuk mengatasi berbagai tantangan domestik, dan JD Vance sempat sarankan untuk beli barang-barang AS [titlebase] sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kerjasama ekonomi antara kedua negara. Perkembangan ini akan terus dipantau oleh dunia internasional, mengingat dampaknya yang luas terhadap stabilitas kawasan dan perekonomian global.











