26/06/2026

ITSEC Asia Gelar GNKS untuk Siapkan Pemimpin Hadapi Ancaman Siber

Penulis

Igone Shayleigh Igone

ITSEC Asia Gelar GNKS untuk Siapkan Pemimpin Hadapi Ancaman Siber
ITSEC Asia Gelar GNKS untuk Siapkan Pemimpin Hadapi Ancaman Siber

Hesti.id – 26 Juni 2026 | Aktivitas serangan siber di Indonesia terus meningkat, mendorong perhatian lebih dari pimpinan organisasi untuk bersiap menghadapi krisis digital. Lewat GNKS ITSEC Asia Dorong Pemimpin Industri Siap Hadapi Krisis Keamanan Siber, PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) berkolaborasi dengan Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) menggelar Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS) di Makassar pada 25 Juni 2026.

Acara yang berlangsung di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla ini mempertemukan pemimpin industri, praktisi keamanan siber, serta berbagai pemangku kepentingan guna memperkuat kemampuan organisasi dalam menghadapi skenario krisis siber yang semakin kompleks. Dengan lebih dari 5,16 miliar anomali trafik yang tercatat oleh Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) sepanjang tahun 2025, penting bagi organisasi untuk tidak hanya fokus pada pencegahan, tetapi juga pada kemampuan merespons insiden yang terjadi.

GNKS menyajikan Executive Tabletop Exercise, sebuah kegiatan yang dirancang untuk membantu pengambil keputusan memahami proses penanganan insiden siber. Berbeda dengan seminar biasa, peserta dibagi ke dalam kelompok dan menjalani lima tahapan simulasi yang mencakup:

  • Memahami konteks ancaman.
  • Menyusun mitigasi.
  • Melakukan simulasi krisis.
  • Mempresentasikan keputusan yang diambil.
  • Melakukan evaluasi dan refleksi bersama.

Melalui pendekatan interaktif ini, peserta diharapkan dapat memahami bagaimana sebuah insiden siber berkembang dan pentingnya respons yang cepat dan tepat. Selain itu, mereka juga akan mendapatkan tiga output yang bisa diterapkan di organisasi masing-masing:

  1. Security Flow: Matriks risiko untuk memetakan prioritas pengamanan berdasarkan dampak dan probabilitas insiden.
  2. Security Design Concept: Gambaran penerapan keamanan pada alur data dan mekanisme autentikasi.
  3. Security Skills Assessment & Recognition: Alat untuk mengukur peningkatan kompetensi peserta dalam menghadapi insiden siber.

Patrick Dannacher, President Director ITSEC Asia, menyatakan bahwa ancaman siber saat ini sudah menjadi perhatian manajemen dan tidak bisa hanya dianggap sebagai masalah teknis. Ia menegaskan, “Ketika sebuah insiden terjadi, dampaknya bisa meluas ke operasional bisnis, layanan kepada pelanggan, hingga reputasi organisasi. Karena itu, kesiapan menghadapi krisis siber tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab tim IT saja.”

Lebih lanjut, Patrick mengungkapkan bahwa GNKS bertujuan untuk membantu peserta membawa pulang pengetahuan yang bisa langsung diterapkan. “Kami ingin peserta pulang dengan sesuatu yang dapat langsung digunakan, dan GNKS tidak hanya membahas ancaman, tetapi juga membantu organisasi memetakan risiko serta meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan ketika menghadapi insiden, agar organisasi menjadi lebih siap,” ujarnya.

Slamet Aji Pamungkas, Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, menekankan pentingnya penguatan kapasitas dalam menjaga keberlanjutan ekonomi digital nasional. “Pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan dalam menghadapi risiko siber. Ini membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar ruang digital Indonesia tumbuh sehat, aman, dan terpercaya,” kata Slamet.

Di sisi lain, Firlie Ganinduto, Ketua Umum ADIGSI, mengungkapkan perlunya peningkatan kesadaran mengenai keamanan siber di berbagai daerah dan sektor industri. “Banyak organisasi sudah menyadari pentingnya keamanan siber, tetapi tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan kesadaran tersebut menjadi tindakan nyata. Melalui GNKS, kami ingin menghadirkan forum praktis agar peserta dapat saling belajar dan membawa hasil yang bisa diterapkan di organisasi masing-masing,” ujarnya.

Makassar dipilih sebagai lokasi acara ini karena posisinya yang strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Gerakan Nasional Ketahanan Siber ini merupakan inisiatif ITSEC Asia dan ADIGSI sepanjang tahun 2026, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapan menghadapi ancaman siber di berbagai sektor. Setelah Banten dan Makassar, rangkaian kegiatan ini akan dilanjutkan ke Pontianak, Bali, Yogyakarta, dan Medan, dengan harapan semakin banyak organisasi yang terlibat dalam gerakan ini.

Patrick menutup dengan harapan bahwa ketahanan siber adalah kepentingan bersama yang mendukung tingkat kepercayaan terhadap ekonomi digital Indonesia.

Related Post

Tinggalkan komentar