Hesti.id – 28 Juni 2026 | Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengusulkan inisiatif baru yang bertujuan untuk membentuk aliansi keamanan antar negara-negara Muslim yang disebut sebagai ‘NATO Islam‘. Inisiatif ini muncul dalam konteks ketegangan global dan bertujuan untuk saingi NATO milik sekutu AS! Iran prakarsai terbentuknya ‘NATO Islam’, ajak Turki dan Saudi Arabia [titlebase]. Dalam kunjungannya ke Pakistan, Pezeshkian menegaskan pentingnya persatuan umat Islam untuk menghadapi berbagai tantangan yang mengancam stabilitas kawasan.
Pezeshkian menyatakan bahwa Iran telah menjalin komunikasi dengan beberapa negara, termasuk Saudi Arabia, Turki, Mesir, dan Qatar, untuk membentuk struktur keamanan baru di Asia Barat. Ia menekankan bahwa arsitektur keamanan regional yang kuat akan mendorong dialog, saling menghormati, dan kerja sama antara negara-negara tetangga, alih-alih bergantung pada intervensi dari kekuatan luar.
“Persatuan dan solidaritas umat Islam sangat penting untuk menghadapi tantangan bersama,” ujar Pezeshkian dalam pernyataannya. Ia mengajak negara-negara Muslim untuk bersatu dan menciptakan front keamanan yang koheren, guna melindungi kepentingan bersama.
Baca juga:
Selama kunjungannya ke Islamabad, Pezeshkian juga mengingatkan bahwa perdamaian dan kemakmuran di kawasan hanya dapat dicapai melalui keterlibatan aktif negara-negara regional. Ia menyoroti bahwa Iran tidak berkomunikasi dengan beberapa negara Teluk, seperti Uni Emirat Arab dan Kuwait, yang dianggapnya telah berkontribusi pada ketegangan di kawasan akibat dukungan mereka terhadap kebijakan AS dan Israel.
Pezeshkian menegaskan bahwa keamanan, stabilitas, dan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui dialog yang terbuka dan konstruktif. Dalam sambutannya, ia juga mengutip filsuf dan penyair Muslim ternama, Muhammad Iqbal, untuk menekankan pentingnya kebangkitan dan persatuan umat Islam.
Pada pertemuan yang berlangsung pada Kamis, 17 April 2025, Menteri Pertahanan Saudi, Khalid bin Salman, menyampaikan pesan dari Raja Saudi kepada pemimpin Iran, Ayatullah Ali Khamenei. Pertemuan ini menandakan adanya upaya diplomatik yang lebih intensif antara Iran dan Saudi Arabia, dua kekuatan dominan di kawasan yang selama ini terlibat dalam persaingan.
Inisiatif Iran untuk membentuk ‘NATO Islam’ diharapkan dapat memperkuat posisi negara-negara Muslim di kancah internasional serta memberikan alternatif terhadap aliansi yang didominasi oleh kekuatan Barat. Dengan mengajak negara-negara seperti Turki dan Saudi Arabia, Iran berusaha membangun koalisi yang mampu menanggapi tantangan global secara kolektif.
Seiring dengan meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS, serta intervensi militer yang dilakukan oleh negara-negara Barat, langkah ini bisa jadi merupakan strategi bagi Iran untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Dengan memperkuat solidaritas di antara negara-negara Muslim, diharapkan dapat tercipta stabilitas yang lebih baik dan mengurangi ketergantungan pada kekuatan eksternal.











