Hesti.id – 28 Juni 2026 | Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Fakultas Kesehatan Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) telah melaksanakan program edukasi yang menarik mengenai deteksi dini Tuberkulosis (TBC) untuk remaja. Kegiatan yang bertajuk Dosen Fakultas Kesehatan UPRI Edukasi Remaja soal Deteksi Dini TBC Lewat Komik dan Permainan ini berlangsung pada 20-21 Juni 2026, bertempat di Cafe Squid, Makassar.
Dalam acara ini, sebanyak 15 peserta dari Mitra Laboran Mengabdi Indonesia terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang dikemas dengan cara yang inovatif. Ketua Tim PKM, Sri Rezkiani Kas, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman remaja mengenai pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan TBC. “Edukasi kesehatan yang menarik dapat membuat informasi lebih mudah diterima oleh masyarakat,” tambahnya.
Untuk menarik perhatian peserta, tim PKM memperkenalkan komik berjudul Pammase’na TBC: Kisah Anak Lorong yang ditulis dalam bahasa daerah Makassar. Komik ini menceritakan kehidupan sehari-hari remaja dan mengajak mereka untuk mengenali gejala TBC serta pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin.
Baca juga:
Selain komik, peserta juga diajak bermain dalam permainan edukatif Ular Tangga Sahabat TBC. Setiap kotak dalam permainan ini berisi informasi terkait TBC yang harus dijawab oleh peserta, sehingga menjadi sarana belajar yang menyenangkan dan interaktif.
Selama dua hari kegiatan, peserta mendapatkan materi yang mencakup pengertian TBC, penyebab penyakit, cara penularan, gejala utama, serta pentingnya deteksi dini dan kepatuhan dalam menjalani pengobatan. Tim PKM juga melaksanakan pre-test dan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pengetahuan peserta tentang TBC setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Ketua Laboran Mengabdi Indonesia memberikan apresiasi terhadap metode edukasi yang digunakan oleh tim Fakultas Kesehatan UPRI. Ia menilai pendekatan yang diterapkan sangat efektif dalam membantu peserta memahami materi kesehatan dengan lebih baik. “Materi yang disampaikan sangat mudah dipahami, dan kami berharap metode ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan dan deteksi dini TBC,” ujarnya.
Salah satu peserta mengungkapkan bahwa ia mendapatkan banyak informasi baru setelah mengikuti kegiatan ini. “Sebelumnya, saya hanya tahu bahwa TBC adalah penyakit batuk biasa. Namun, setelah mengikuti kegiatan ini, saya memahami bahwa TBC bisa disembuhkan jika terdeteksi lebih awal dan diobati dengan benar,” ungkapnya.
Tim PKM yang terlibat dalam kegiatan ini juga meliputi Dr. Yermi, S.KM., S.Kep., M.Kes., dan Dr. Muhammad Harliawan, S.Pd., M.Pd. Mereka semua berperan dalam pengembangan materi, penyusunan media edukasi, serta pendampingan peserta.
Di akhir kegiatan, diharapkan media edukasi yang telah dikembangkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh berbagai pihak, termasuk sekolah, komunitas, organisasi masyarakat, dan tenaga kesehatan. Inisiatif seperti ini diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat tentang TBC, mengurangi stigma terhadap penderita, serta mendukung upaya percepatan eliminasi TBC di Indonesia.
Program PKM ini merupakan salah satu bentuk inovasi promosi kesehatan yang berbasis pada budaya lokal. Dengan pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami, kegiatan ini berpotensi memberikan dampak positif terhadap pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam pencegahan serta pengendalian penyakit TBC.











