26/06/2026

Inovasi Getaran yang Baik: Jembatan Menari dan IoT Berkelanjutan

Penulis

Aloisa Aloisa

Inovasi Getaran yang Baik: Jembatan Menari dan IoT Berkelanjutan
Inovasi Getaran yang Baik: Jembatan Menari dan IoT Berkelanjutan

Hesti.id – 26 Juni 2026 | Getaran yang baik jembatan menari dan IoT yang berkelanjutan menjadi tema penelitian menarik yang diusung oleh Ibnu Taufan, seorang peneliti PhD di University of Limerick. Dalam penelitiannya, Taufan mengeksplorasi fenomena getaran, terutama resonansi yang dapat menyebabkan kegagalan struktur seperti jembatan. Sejak kecil, pengalaman Taufan melihat pembangunan Jembatan Suramadu di Indonesia menggugah rasa ingin tahunya tentang bagaimana getaran dapat mempengaruhi struktur.

“Waktu saya kecil, saya dan ayah sering bepergian dari Sumenep ke Surabaya dengan kapal feri. Di kapal feri, saya melihat Jembatan Suramadu sedang dibangun,” kata Taufan, menceritakan pengalaman masa kecilnya. Kesempatan itu mendorongnya untuk bertanya mengapa pembangunan jembatan memakan waktu begitu lama.

Ketertarikan Taufan semakin mendalam ketika ia kuliah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Di sana, ia belajar tentang resonansi yang pernah menyebabkan runtuhnya Jembatan Tacoma. “Dosen menjelaskan fenomena resonansi yang menjelaskan mengapa jembatan bisa runtuh. Penjelasannya membuat saya semakin menyukai getaran dan fisika,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan gelar sarjananya, Taufan berkarir sebagai insinyur pengembangan produk di bidang teknik getaran. Di sana, ia melakukan penelitian untuk memanfaatkan sinyal getaran dalam memonitor kesehatan mesin. Pengalaman ini membawanya untuk melanjutkan studi PhD di bidang pemanenan energi getaran di Irlandia.

Taufan menjelaskan bahwa fokus penelitiannya adalah mengembangkan teknologi pemanen energi getaran piezoelektrik (PVEH) yang mampu memberi daya pada sensor Internet of Things (IoT) secara berkelanjutan. “Umumnya, industri bergantung pada baterai atau jaringan listrik untuk menggerakkan sensor, tetapi sumber energi ini tidak berkelanjutan dan mahal,” ujarnya. Dengan teknologi PVEH, getaran dari mesin dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik yang mendukung pemantauan mesin di industri 4.0.

“Dengan teknologi ini, kami bisa mengurangi limbah baterai dan ketergantungan pada jaringan listrik,” lanjut Taufan. Ia menyoroti dampak negatif dari limbah baterai yang berpotensi mencemari tanah dan air, serta biaya tinggi untuk infrastruktur jaringan listrik yang diperlukan untuk menghubungkan ribuan sensor IoT.

Dalam penelitiannya, resonansi menjadi salah satu topik utama yang ia eksplorasi. Taufan menggambarkan fenomena ini dengan sangat sederhana. “Bayangkan seseorang yang menari saat mendengarkan musik favoritnya. Jika musik itu tidak disukainya, dia tidak akan menari. Begitu pula dengan jembatan yang bergetar,” jelasnya. Resonansi dapat menyebabkan struktur seperti jembatan mengalami kegagalan jika tidak dirancang dengan baik.

Taufan menekankan bahwa dalam menciptakan mesin pemanen energi getaran, ia harus memastikan frekuensi alami mesin mirip dengan frekuensi operasional dari getaran yang ada di sekitarnya. “Jika mesin pemanen ‘menari’ saat diletakkan di dekat sumber getaran, output daya yang dihasilkan dapat memadai untuk memberi daya pada sensor IoT,” tambahnya.

Di masa depan, Taufan percaya bahwa penelitian ini akan membantu mengurangi limbah baterai dan meningkatkan efisiensi pemantauan mesin di berbagai industri. “Insinyur tidak lagi perlu memantau mesin secara manual atau mengganti baterai sensor IoT,” tegasnya. Ia juga menyoroti potensi penggunaan teknologi ini di sektor perkeretaapian, di mana getaran dari jalur kereta api dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan sensor pemantauan.

Sementara itu, Taufan berharap dapat melanjutkan karirnya di dunia akademis setelah menyelesaikan gelar PhD. “Saya ingin mengajar dan melakukan penelitian yang berkaitan dengan getaran. Keahlian saya di bidang ini dapat membantu memecahkan masalah terkait keberlanjutan di industri dan masyarakat,” tutupnya.

Related Post

Tinggalkan komentar