27/06/2026

Gonen Stein: Arsitektur Pemulihan AI Perlu Transformasi Menyeluruh

Penulis

Hehet Hehet Hehet

Gonen Stein: Arsitektur Pemulihan AI Perlu Transformasi Menyeluruh
Gonen Stein: Arsitektur Pemulihan AI Perlu Transformasi Menyeluruh

Hesti.id – 26 Juni 2026 | JAKARTA — Arsitektur pemulihan AI harus berubah kata Gonen Stein, presiden dan co-founder Eon. Dalam era di mana agen kecerdasan buatan mampu menulis kode dan menjalankan tugas dalam waktu singkat, sistem cadangan yang masih mengandalkan kecepatan manusia menjadi sangat tidak relevan. Kemajuan teknologi ini menunjukkan bahwa waktu kehilangan data bisa lebih cepat dibandingkan dengan proses pemulihannya yang tetap memakan waktu lama.

Gonen Stein menjelaskan bahwa satu backup yang tampaknya berhasil tidak selalu dapat dipulihkan pada saat dibutuhkan. Dalam diskusi bersama Tim Phillips yang dipublikasikan oleh Eon, ia mengungkapkan bahwa kesalahan dalam pemulihan data dapat terjadi sebelum tim manusia menyadari adanya masalah. Hal ini tentu sangat berbahaya dalam konteks operasional perusahaan.

Stein menyoroti bahwa banyak sistem recovery masih bergantung pada pemeriksaan manual, jadwal, atau proses restore yang lambat, menciptakan celah antara kecepatan data hilang dan kecepatan pemulihan. Dalam lingkungan cloud yang terus berubah, model cadangan lama yang dirancang untuk server statis menjadi semakin rentan.

“Cloud-native infrastructure terus berubah. Aplikasi mengalami fluktuasi, konfigurasi berubah, dan layanan baru muncul, sementara kebijakan backup sering kali tertinggal,” jelas Stein. Oleh karena itu, meskipun tampak aman di dashboard, tidak ada jaminan bahwa sistem tersebut benar-benar terlindungi. Ia menegaskan bahwa “selesai backup” tidak sama dengan “restore sudah diuji.”

Satu temuan mengejutkan dari Eon menunjukkan bahwa 98 persen eksekutif merasa yakin akan kemampuan pemulihan mereka, meskipun banyak yang mengaku mengalami setidaknya tiga kegagalan dalam setahun terakhir. Hal ini menciptakan kesenjangan besar antara rasa percaya diri dan realita operasional, yang dapat menimbulkan biaya tinggi bagi perusahaan.

Ketika insiden terjadi, tim sering kali baru menyadari bahwa backup yang mereka miliki tidak sesuai dengan kondisi terbaru sistem. Versi aplikasi yang berubah, dependensi yang bergeser, dan data yang harus dipulihkan mungkin tidak tersedia pada titik waktu yang diperlukan, sehingga proses pemulihan menjadi lebih rumit dan mahal.

Di Indonesia, banyak perusahaan yang memanfaatkan layanan cloud, menyimpan data pelanggan, atau menjalankan aplikasi berbasis SaaS menghadapi masalah serupa. Dengan semakin banyaknya otomatisasi, kebutuhan untuk memastikan bahwa cadangan dapat diakses dan digunakan dengan baik menjadi semakin mendesak.

Stein memberikan contoh yang menggugah: pada bulan April, sebuah agen AI yang bertugas memperbaiki ketidakcocokan kredensial di lingkungan staging PocketOS justru menghapus basis data produksi dan semua backup terkait dalam waktu sembilan detik. Agen tersebut menggunakan kredensial dan API yang valid, sehingga tidak ada alarm yang berbunyi dan tim tidak menyadari kesalahan hingga kerusakan telah terjadi.

Insiden ini menunjukkan pergeseran besar dalam lanskap risiko. Serangan yang dimungkinkan oleh AI tidak hanya lebih cepat, tetapi juga lebih sulit dideteksi. Penyerang dapat memanfaatkan celah dengan lebih efisien, sementara agen internal yang salah konfigurasi dapat merusak sistem tanpa disengaja. Kedua situasi ini memiliki potensi bahaya yang serius.

Untuk mengatasi tantangan ini, Eon merekomendasikan bahwa backup harus disimpan di dalam vault yang immutable dan logically air-gapped, dengan kredensial yang terpisah dari sistem produksi. Dengan cara ini, cadangan akan tetap aman meskipun lingkungan utama terkena serangan atau salah konfigurasi. Konsep ini serupa dengan menyimpan dokumen penting di tempat yang tidak dapat diakses sembarangan.

Stein juga mendorong pemulihan yang lebih granular, di mana perusahaan seharusnya dapat mengembalikan satu tabel, satu record, atau satu titik waktu tertentu tanpa harus menghidupkan seluruh sistem. Ini akan mengurangi waktu henti dan kerugian yang mungkin dialami oleh bisnis.

Dengan meningkatnya keterlibatan agen AI dalam workflow harian, penting bagi organisasi untuk memperlakukan backup sebagai lapisan pertahanan aktif, bukan sekadar arsip yang diperiksa sesekali. Hal ini mendorong tim IT untuk mempertimbangkan beberapa pertanyaan penting: Apakah backup benar-benar terpisah dari sistem produksi? Apakah kredensialnya berbeda? Kapan terakhir kali pemulihan penuh diuji?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dapat memiliki dampak langsung pada bisnis. Satu kali pemulihan yang gagal bisa berujung pada layanan yang lumpuh, hilangnya data pelanggan, atau proses pemulihan yang sangat lama. Di era di mana agen AI menjadi bagian dari operasional, setiap jeda kecil dapat berakibat fatal.

Arsitektur pemulihan AI harus dirancang ulang, bukan hanya diperbaharui. Teknologi terus bergerak maju, dan langkah-langkah perlindungan data harus mengikuti perkembangan tersebut agar tidak tertinggal.

Related Post

Tinggalkan komentar