Hesti.id – 28 Juni 2026 | Industri otomotif China semakin menunjukkan keunggulannya dalam teknologi mesin hybrid, bahkan mulai lampaui Jepang dalam beberapa aspek penting. Produsen seperti Chery dan Geely telah mencatat efisiensi termal mesin hibrida yang mengesankan, mengungguli standar global yang selama ini dikuasai oleh Jepang. Dengan penerapan kecerdasan buatan dalam sistem kontrol mesin, kendaraan hibrida asal China mampu beradaptasi secara otomatis terhadap kondisi lingkungan, meningkatkan performa pembakaran secara real-time.
Dalam konteks ini, strategi pengembangan dua jalur oleh pabrikan China, yang mencakup pengembangan mobil listrik serta penyempurnaan mesin bensin-hibrida, menjadi kunci bagi dominasi mereka di pasar otomotif global hingga tahun 2038. Hal ini menunjukkan bahwa otomotif China mulai lampaui Jepang dalam teknologi mesin hybrid, dengan Chery berhasil memperkenalkan sistem hibrida Kunpeng Tianqing pada model terbaru mereka di ajang Shenzhen Auto Show.
Chery mengklaim efisiensi termal mesin hibrida mereka mencapai 48,57 persen, sebuah pencapaian yang diakui sebagai yang tertinggi di dunia. Sementara itu, Geely juga meluncurkan sistem penggerak i-HEV pada model Xingyue L, yang berhasil mencapai efisiensi sebesar 48,41 persen. Angka-angka ini jauh melampaui mesin bensin konvensional yang biasanya hanya berkisar di angka 38 hingga 45 persen.
Baca juga:
Lebih dari sekadar optimalisasi perangkat keras, perusahaan China seperti Changan juga mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan dan sensor canggih dalam unit kontrol mesinnya. Teknologi ini memungkinkan mesin untuk secara konsisten mengoptimalkan proses pembakaran berdasarkan perubahan kondisi lingkungan, seperti ketinggian, kelembapan, dan suhu. Dengan demikian, otomotif China mulai lampaui Jepang dalam teknologi mesin hybrid dan siap bersaing di level global.
Di sisi lain, ekspansi industri otomotif China tidak hanya terbatas pada teknologi mesin. Mobil listrik asal China juga mengalami lonjakan ekspor yang signifikan, mencetak rekor baru dengan nilai mencapai USD 9,2 miliar pada Mei 2026. Permintaan kendaraan listrik dari negara-negara ASEAN, termasuk Thailand dan Filipina, menunjukkan tren pertumbuhan yang pesat. Hal ini menjadi bukti bahwa otomotif China semakin merajalela di pasar global.
Produsen seperti BYD juga menunjukkan langkah agresif dengan mengambil alih pabrik yang sudah ada di Eropa untuk mempercepat ekspansi mereka, sehingga dapat memproduksi kendaraan langsung di pasar tersebut. Strategi ini memungkinkan mereka untuk mengurangi biaya logistik dan menyesuaikan diri dengan aturan lokal, sekaligus memperkuat citra sebagai produsen yang hadir secara langsung di Eropa.
Dalam konteks ini, persaingan di industri otomotif global kini tidak hanya terfokus pada harga, tetapi juga pada inovasi teknologi dan integrasi rantai pasok. Produsen Eropa, meskipun masih memiliki keunggulan dalam rekayasa teknik dan kualitas, kini menghadapi tantangan baru dari produsen China yang semakin agresif dalam menguasai pasar.
Melihat semua perkembangan ini, jelas bahwa otomotif China mulai lampaui Jepang dalam teknologi mesin hybrid, dan akan terus mempengaruhi arah industri otomotif dunia di masa depan. Dengan kombinasi antara efisiensi mesin dan kecerdasan digital, pabrikan China siap membentuk ulang peta persaingan pasar mobil hibrida global hingga tahun 2038.











