27/06/2026

Rupiah Diprediksi Kembali Tembus Level Rp 18.000 di Akhir Pekan Ini

Penulis

Mariabella La Fierza

Rupiah Diprediksi Kembali Tembus Level Rp 18.000 di Akhir Pekan Ini
Rupiah Diprediksi Kembali Tembus Level Rp 18.000 di Akhir Pekan Ini

Hesti.id – 26 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi kembali tembus level Rp 18.000 di akhir pekan ini, setelah mengalami fluktuasi yang signifikan dalam beberapa hari terakhir. Pada perdagangan Jumat (26/6/2026), rupiah ditutup menguat di level Rp 17.922 per dolar AS, meskipun pada awal perdagangan sempat menyentuh level Rp 17.990.

Penguatan ini disambut positif oleh pasar, terutama terkait dengan sinyal efisiensi anggaran yang disiapkan pemerintah untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini menjadi perhatian utama karena dianggap mampu mengurangi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, menjelaskan bahwa respons positif pasar ini mencerminkan harapan terhadap stabilitas fiskal yang lebih baik.

Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) juga berupaya meredam volatilitas rupiah dengan melakukan intervensi pasar secara agresif melalui berbagai mekanisme, termasuk pasar spot dan pasar Surat Berharga Negara. Meskipun demikian, tantangan tetap ada, terutama dengan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral AS, yang dapat memicu depresiasi lebih lanjut terhadap rupiah.

Data ekonomi AS yang positif, seperti revisi angka Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026 dan penurunan angka pengangguran, telah memperkuat indeks dolar AS. Hal ini menjadi faktor eksternal yang memberikan tekanan kepada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Ibrahim menambahkan bahwa penguatan dolar AS diprediksi akan berlanjut, yang membuat pergerakan rupiah menjadi lebih berisiko.

Dalam konteks ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa Badan Gizi Nasional tengah mempersiapkan langkah efisiensi lebih lanjut untuk program MBG. Meskipun penghematan anggaran akan dilakukan, Purbaya menegaskan bahwa kualitas dan kuantitas program tidak akan terpengaruh.

Pengamat pasar memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.000 per dolar AS seiring dengan meningkatnya permintaan dolar dan ekspektasi kenaikan suku bunga di AS. Senior Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, mengungkapkan bahwa ada kemungkinan rupiah terdepresiasi hingga Rp 18.100 per dolar AS jika tekanan terhadap rupiah terus berlanjut.

Dengan berbagai faktor yang mempengaruhi, termasuk kebijakan moneter AS dan efisiensi anggaran dalam negeri, pasar akan terus memantau perkembangan ini. Para pelaku pasar berharap bahwa langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah dan BI dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mencegah terjadinya krisis lebih dalam.

Related Post

Tinggalkan komentar