Hesti.id – 24 Juni 2026 | Peusijuek Tradisi Doa dan Restu dalam Pernikahan Adat Aceh masih menjadi bagian penting dalam prosesi pernikahan masyarakat Aceh. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini dipercaya sebagai bentuk doa dan restu bagi pasangan yang akan memulai kehidupan rumah tangga.
Prosesi Peusijuek begitu sederhana namun penuh kelenturan batin. Pengantin laki-laki dan perempuan duduk berdampingan dengan tenang di hadapan keluarga. Seseorang yang dituakan—bisa orang tua kandung, bisa pula tokoh adat—lalu memercikkan air yang telah dicampur dengan tepung tawar ke ubun-ubun, pundak, dan telapak tangan pengantin.
Peusijuek, atau yang kerap disebut tepung tawar di berbagai daerah Nusantara, adalah sebuah tradisi pemberian doa dan berkah yang sudah mengakar dalam budaya Aceh. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari rangkain adat pernikahan, tetapi juga menjadi simbol dukungan, doa, dan harapan dari keluarga serta masyarakat kepada pasangan pengantin.
Baca juga:
Tradisi Peusijuek masih terus dilestarikan oleh masyarakat Aceh. Dari kalangan orang tua hingga generasi muda yang mulai berkeluarga, Peusijuek tetap menjadi simbol restu dan harapan bagi pasangan pengantin. Peusijuek Tradisi Doa dan Restu dalam Pernikahan Adat Aceh merupakan salah satu prosesi yang memiliki makna mendalam karena menjadi sarana penyampaian doa dan harapan bagi kedua mempelai.
Melalui Peusijuek, masyarakat Aceh dapat melestarikan tradisi dan budaya yang telah diwariskan dari leluhur. Peusijuek Tradisi Doa dan Restu dalam Pernikahan Adat Aceh juga menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan warisan leluhur yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Peusijuek Tradisi Doa dan Restu dalam Pernikahan Adat Aceh memiliki makna yang mendalam dan masih terus dipraktekan hingga saat ini. Dengan demikian, tradisi ini tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Aceh dan menjadi simbol kebersamaan dan kekuatan warisan leluhur.











