Hesti.id – 24 Juni 2026 | Ketika Grup Terlalu Kompak Bahaya Groupthink di Era Media Sosial merupakan fenomena yang perlu diperhatikan dalam komunikasi kelompok di era digital. Bekerja dalam kelompok sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari tugas kuliah, organisasi kampus, komunitas online, hingga tim kerja. Sekilas, kelompok yang kompak terlihat ideal karena anggotanya mudah mencapai kesepakatan. Namun, menurut teori komunikasi kelompok, kekompakan yang berlebihan justru bisa menjadi masalah.
Fenomena ini dikenal sebagai groupthink atau pemikiran kelompok. Saat ini, contoh groupthink sering ditemukan di media sosial. Tidak jarang sebuah kelompok atau komunitas online memiliki pandangan yang sama terhadap suatu isu. Ketika ada anggota yang berbeda pendapat, mereka sering kali memilih diam karena takut dikritik atau dianggap tidak sejalan dengan kelompok. Akibatnya, keputusan atau opini yang terbentuk bukan lagi hasil pertimbangan yang matang, melainkan karena dorongan untuk tetap diterima dalam kelompok.
Ketika Grup Terlalu Kompak Bahaya Groupthink di Era Media Sosial juga sering terjadi dalam tugas kelompok mahasiswa. Misalnya, ketika ketua kelompok mengusulkan sebuah ide dan sebagian anggota sebenarnya memiliki solusi yang lebih baik. Namun karena tidak ingin memperpanjang diskusi atau dianggap menghambat pekerjaan, mereka memilih mengikuti keputusan mayoritas. Hasilnya, keputusan yang diambil belum tentu menjadi pilihan terbaik.
Baca juga:
Selain groupthink, teori dalam komunikasi juga menjelaskan bahwa komunikasi kelompok yang sehat membutuhkan interaksi yang aktif antaranggota. Bales melalui Analisis Proses Interaksi menekankan pentingnya komunikasi terbuka dalam kelompok agar tercipta keseimbangan dan proses pengambilan keputusan yang lebih efektif. Dengan adanya ruang untuk bertukar ide dan kritik, kelompok dapat melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang.
Perbedaan pendapat dalam kelompok tidak seharusnya dianggap sebagai ancaman. Justru perbedaan tersebut dapat menjadi sumber inovasi dan solusi yang lebih baik. Kelompok yang sehat bukanlah kelompok yang selalu sepakat, melainkan kelompok yang mampu menghargai berbagai pandangan sebelum mengambil keputusan bersama. Oleh karena itu, di tengah budaya media sosial yang sering mendorong orang untuk mengikuti arus mayoritas, kemampuan berpikir kritis dan keberanian menyampaikan pendapat menjadi hal yang sangat penting. Jangan sampai kekompakan yang terlihat positif justru membuat kelompok kehilangan objektivitas. Komunikasi kelompok yang baik adalah komunikasi yang memberi ruang bagi setiap anggota untuk didengar, bukan hanya untuk menyetujui.
Ketika Grup Terlalu Kompak Bahaya Groupthink di Era Media Sosial merupakan peringatan bagi kita untuk tidak terlalu terpaku pada kesepakatan dan mempertimbangkan pendapat yang berbeda. Dengan demikian, kita dapat menghindari jebakan groupthink dan membuat keputusan yang lebih matang dan objektif.











