Hesti.id – 30 Juni 2026 | Dalam perkembangan terbaru yang mengguncang dunia teknologi, superkomputer tercepat dunia LineShine berhasil mengungguli El Capitan milik Amerika Serikat. Pencapaian ini diumumkan dalam Daftar Top500 per bulan Juni 2026, yang menunjukkan bahwa China kembali merebut posisi teratas dalam teknologi komputasi kinerja tinggi. Ini adalah momen bersejarah, karena menjadi kali pertama sejak 2017 bagi China untuk memimpin daftar tersebut.
LineShine mencatatkan performa luar biasa dengan kemampuan mencapai 2.198 petaflop, yang setara dengan 2,2 exaflop, melampaui El Capitan yang hanya mampu mencapai 1.809 petaflop. Dengan angka ini, LineShine menandai keunggulan 21 persen dibandingkan mesin asal AS tersebut, yang sebelumnya mendominasi selama beberapa tahun.
Peringkat ini diperoleh melalui pengujian standar Linpack, yang telah digunakan sejak tahun 1993 untuk menilai performa infrastruktur komputasi. Setiap enam bulan, daftar ini diperbarui dan menjadi acuan utama di seluruh dunia. Selain itu, LineShine juga menunjukkan performa yang lebih baik dalam High Performance Conjugate Gradient (HPCG), yang mengukur kemampuan komputer dalam menjalankan aplikasi ilmiah kompleks.
Baca juga:
| Peringkat Global | Nama Sistem Komputer | Negara Asal | Skor Uji Linpack (Petaflop) | Skor Uji HPCG (Petaflop/s) |
|---|---|---|---|---|
| 1 | LineShine | China | 2.198 (2,2 Exaflop) | 22,00 |
| 2 | El Capitan | Amerika Serikat | 1.809 (1,8 Exaflop) | 17,41 |
| 3 | Frontier | Amerika Serikat | – | 14,05 |
| 4 | Fugaku | Jepang | – | 16,00 |
Dengan skor 22,00 HPCG-Petaflop/s, LineShine tidak hanya unggul di Linpack tetapi juga di sektor benchmark HPCG, yang lebih merepresentasikan performa nyata superkomputer dalam konteks aplikasi ilmiah. Hal ini menunjukkan bahwa superkomputer tercepat dunia LineShine Ungguli El Capitan Milik AS dalam hal keandalan dan efisiensi saat digunakan dalam penelitian ilmiah yang kompleks.
Salah satu aspek menarik dari LineShine adalah pendekatan arsitektur yang independen dan tidak bergantung pada GPU asing dari perusahaan seperti Nvidia atau AMD. Superkomputer ini menggunakan prosesor LingKun LX2 dan akselerator LingQi yang diproduksi di dalam negeri, menandakan kemandirian China dalam riset dan teknologi, terutama di tengah ketatnya embargo dagang yang diberlakukan oleh pemerintah AS.
LineShine terdiri dari sekitar 13,79 juta inti komputasi yang terintegrasi dalam 90 kabinet perangkat keras, yang mengadopsi arsitektur instruksi dari Arm Holdings. Inovasi ini menunjukkan bahwa tren penggunaan arsitektur Arm semakin meningkat di pusat data berskala besar, meskipun rincian mengenai produsen chip tersebut masih dirahasiakan.
Pencapaian ini bukan hanya prestasi bagi China, tetapi juga menjadi sinyal bagi kekuatan riset dan teknologi negara tersebut di tengah tantangan global. LineShine kini sudah aktif digunakan untuk berbagai proyek penelitian strategis, seperti pemrosesan data untuk simulasi iklim Bumi dan pemetaan jaringan saraf otak manusia. Hal ini menunjukkan bahwa superkomputer tercepat dunia LineShine Ungguli El Capitan Milik AS tidak hanya menjadi kebanggaan teknologi, tetapi juga alat penting dalam penelitian ilmiah.
Dengan keberhasilan ini, peta persaingan dalam teknologi superkomputer akan memasuki babak baru, di mana kemandirian dan inovasi lokal menjadi kunci utama. Superkomputer tercepat dunia LineShine bukan hanya sekadar prestasi teknis, tetapi juga simbol dari ketahanan dan kemajuan teknologi yang mampu menembus batasan-batasan yang ada.











