Hesti.id – 30 Juni 2026 | Hasil survei terbaru yang dilakukan oleh Compliance Institute menunjukkan bahwa pelanggaran data tidak dilaporkan menurut survei kepatuhan Irlandia menjadi isu yang signifikan di kalangan profesional kepatuhan di negara tersebut. Survei ini melibatkan 150 profesional yang sebagian besar bekerja di sektor jasa keuangan.
Dari responden yang disurvei, lebih dari separuh (51 persen) percaya bahwa pelanggaran perlindungan data tidak dilaporkan dalam organisasi mereka. Dari kelompok ini, 19 persen mengindikasikan bahwa banyak pelanggaran mungkin tidak dilaporkan, sementara 32 persen lainnya percaya bahwa hanya beberapa saja yang tidak dilaporkan.
Michael Kavanagh, CEO Compliance Institute, menyatakan, “Meskipun ada budaya kepatuhan yang kuat dalam organisasi, risiko nyata bahwa beberapa pelanggaran tetap tidak terlaporkan harus diwaspadai. Persentase yang tinggi dari profesional kepatuhan yang meragukan laporan pelanggaran menunjukkan perlunya kewaspadaan di semua tingkat organisasi.”
Baca juga:
Sebanyak 49 persen responden berpendapat bahwa pelanggaran data tidak dilaporkan secara sadar, dan hanya 33 persen yang merasa bahwa organisasi tidak akan sengaja mengabaikan kewajiban pelaporan tersebut. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpastian dalam proses kepatuhan yang ada saat ini.
Berbicara tentang alasan di balik pelanggaran perlindungan data yang tidak dilaporkan, survei mengungkap bahwa 26 persen responden menyebutkan ketakutan akan akuntabilitas pribadi sebagai salah satu faktor utama. Selain itu, 22 persen menyebutkan kekhawatiran terhadap kerusakan reputasi merek, dan 19 persen lainnya menganggap pengawasan regulasi atau potensi hukuman sebagai alasan utama untuk tidak melaporkan pelanggaran.
Kavanagh menekankan bahwa persepsi terhadap pelanggaran yang tidak dilaporkan tidak hanya merefleksikan budaya organisasi, tetapi juga mengindikasikan tantangan struktural dalam proses kepatuhan. “Staf mungkin enggan untuk melaporkan insiden karena takut akan konsekuensi pribadi. Tanpa adanya protokol pelaporan yang jelas, pelaporan yang tidak disengaja juga bisa terjadi,” jelasnya.
Dia menambahkan bahwa situasi ini membuat organisasi dan individu yang datanya mereka kelola menjadi rentan. Penting bagi organisasi untuk memastikan bahwa setiap pelanggaran segera diidentifikasi, dilaporkan, dan diselidiki. Pelanggaran yang tidak dilaporkan dapat menimbulkan konsekuensi serius, termasuk tindakan regulasi, kerusakan reputasi, dan paparan data sensitif.
Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci dalam membangun kepercayaan dan memastikan kepatuhan. Compliance Institute juga mencatat bahwa melaporkan pelanggaran dengan segera tidak hanya memenuhi kewajiban peraturan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi organisasi untuk belajar dari insiden dan meningkatkan langkah-langkah perlindungan data yang ada.
Dalam menghadapi tantangan ini, penting bagi organisasi untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pelaporan insiden dan memberi jaminan kepada karyawan bahwa mereka tidak akan menghadapi konsekuensi negatif karena melaporkan pelanggaran. Inisiatif pelatihan dan kesadaran tentang pentingnya kepatuhan juga harus menjadi bagian integral dari strategi organisasi.











