Hesti.id – 03 Juli 2026 | Nutanix, perusahaan terkemuka dalam solusi komputasi hybrid multicloud, baru saja merilis hasil survei tahunan yang ke delapan, yaitu Enterprise Cloud Index (ECI) untuk sektor kesehatan. Dalam laporan ini, terungkap bahwa Laporan Nutanix Adopsi AI Kian Mendesak di Tengah Meningkatnya Risiko Shadow AI dan Masalah Kesiapan Infrastruktur menjadi tema sentral yang mencerminkan tantangan yang dihadapi organisasi kesehatan di seluruh dunia.
Hasil survei menunjukkan bahwa sektor kesehatan mengalami tekanan yang meningkat untuk mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Pendorong utama adopsi ini berasal dari level pimpinan, sementara penggunaan shadow AI semakin meluas di berbagai fungsi baik klinis maupun administratif. Sayangnya, infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung penerapan AI yang aman dan mematuhi regulasi masih sangat kurang.
Seiring dengan pergeseran AI dari pusat data menuju titik layanan pasien, di mana diperkirakan hingga 75% data kesehatan akan dihasilkan, kesiapan infrastruktur, kedaulatan data, dan tata kelola klinis menjadi semakin kritis. Survei ini juga menunjukkan bahwa pemimpin IT di sektor kesehatan menyadari potensi transformasi yang ditawarkan oleh AI, termasuk melalui agen AI otonom dan dukungan pengambilan keputusan klinis secara real-time. Namun, terdapat kesenjangan signifikan dari segi organisasi dan infrastruktur yang harus diatasi untuk mewujudkan potensi tersebut.
Baca juga:
“Organisasi kesehatan di kawasan Asia Pasifik dan Jepang merasakan tekanan yang semakin besar untuk mengadopsi AI. Namun, kebutuhan dari tenaga klinis belum diimbangi dengan kesiapan infrastruktur yang memadai. Ini bukan hanya masalah IT, tetapi juga berpengaruh pada keberlangsungan sistem kritis, akses data, dan pada akhirnya, layanan bagi pasien,” ungkap Daryush Ashjari, Chief Technology Officer dan VP Solution Engineering, APJ di Nutanix.
Beberapa temuan utama dari Laporan Nutanix Adopsi AI Kian Mendesak di Tengah Meningkatnya Risiko Shadow AI dan Masalah Kesiapan Infrastruktur mencakup:
- Shadow AI yang Meluas: Sebanyak 79% organisasi kesehatan melaporkan penggunaan aplikasi atau agen AI oleh karyawan di luar fungsi IT, yang berpotensi menimbulkan risiko bagi perusahaan. Selain itu, 83% responden merasa bahwa keterpisahan antara unit bisnis dan IT menghambat implementasi teknologi secara efektif.
- Kesiapan Infrastruktur untuk AI: 88% pemimpin IT mengungkapkan bahwa infrastruktur saat ini belum siap mendukung beban kerja AI di lingkungan on-premises. Ini menjadi perhatian serius karena inferensi AI di titik layanan pasien sangat diperlukan untuk mengurangi risiko latensi dalam layanan klinis.
- Peningkatan Kontainerisasi: Sekitar 86% organisasi kesehatan mencatat bahwa AI mempercepat adopsi teknologi kontainer. Ini memungkinkan model AI dijalankan secara lokal di sisi layanan pasien dengan aman dan mudah dipindahkan.
- Peningkatan Efisiensi Melalui Agen AI: 58% pemimpin IT percaya bahwa agen AI dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi, dengan 57% memperkirakan agen AI akan mentransformasi proses bisnis.
- Kedaulatan Data sebagai Prioritas: 72% organisasi kesehatan menganggap kedaulatan data sebagai persyaratan penting dalam pengambilan keputusan infrastruktur.
Secara keseluruhan, hasil dari Laporan Nutanix Adopsi AI Kian Mendesak di Tengah Meningkatnya Risiko Shadow AI dan Masalah Kesiapan Infrastruktur menunjukkan bahwa meskipun organisasi kesehatan bergerak cepat dalam adopsi AI, mereka masih menghadapi tantangan besar terkait kesiapan infrastruktur untuk mendukungnya dengan aman.
Dalam era di mana data dan layanan kesehatan bertemu, sektor kesehatan berada dalam fase penting untuk inovasi. AI bukan lagi sekadar wacana; ia telah menjadi bagian dari lingkungan berbasis kontainer dan beroperasi di infrastruktur hybrid. Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam hal manajemen beban kerja yang dijalankan secara bersamaan di berbagai sistem.
Para pemimpin IT di sektor kesehatan harus menghadapi kenyataan bahwa beban kerja AI di titik layanan pasien memerlukan infrastruktur yang mampu memberikan kinerja tinggi, menjaga kepatuhan regulasi, dan mendukung tata kelola klinis secara efektif. Dengan demikian, pendekatan yang hanya berfokus pada cloud tidak lagi mencukupi.
Kelangsungan layanan klinis dan hasil perawatan pasien sangat bergantung pada kemampuan organisasi kesehatan untuk merancang arsitektur AI dengan baik, membangun lingkungan data yang aman, komputasi yang skalabel, dan distribusi aplikasi yang dapat diandalkan di seluruh organisasi.











