Hesti.id – 29 Juni 2026 | Di era digital ini, mahasiswa UNTAG Surabaya melakukan langkah inovatif dengan mendampingi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam menerapkan digital branding dan sistem pembayaran digital. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu pelaku UMKM memahami pentingnya teknologi digital untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan pelayanan usaha mereka.
Pendampingan ini dilakukan melalui program Praktikum Komunikasi Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, yang berlangsung di dua lokasi, yaitu Warung Mbak Beby dan Toko Kelontong Bu Mah, yang berada di Surabaya. Warung Mbak Beby terletak di area PKL Gaza, dekat dengan Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) serta Universitas Dr. Soetomo, sementara Toko Kelontong Bu Mah berada di Jalan Simo Gunung Barat III, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya.
Sebelum pendampingan dilakukan, kedua UMKM ini belum memiliki media branding yang memadai untuk memperkenalkan produk mereka. Mereka juga masih mengandalkan metode jual beli konvensional dan belum menyediakan layanan pembayaran digital, meskipun ada permintaan dari pelanggan untuk metode pembayaran QRIS yang lebih modern.
Baca juga:
Untuk mengatasi masalah ini, mahasiswa UNTAG Surabaya menggunakan pendekatan yang sederhana dan mudah dimengerti. Mereka memberikan sosialisasi mengenai manfaat pembayaran digital dan menjelaskan cara penggunaan QRIS, serta membantu membuat banner usaha yang lebih menarik sebagai media branding. Pendekatan ini dirancang agar pelaku UMKM tidak hanya mendapatkan bantuan, tetapi juga memahami cara memanfaatkan teknologi secara mandiri.
Hasil dari kegiatan pendampingan ini menunjukkan kemajuan yang signifikan. Kini, kedua UMKM tersebut telah memiliki banner usaha yang lebih informatif dan fasilitas pembayaran digital QRIS yang dapat digunakan dalam transaksi sehari-hari. Kehadiran QRIS diharapkan dapat memudahkan pelanggan yang lebih terbiasa dengan pembayaran non-tunai, sementara banner usaha diharapkan dapat meningkatkan daya tarik dan mempermudah pengenalan usaha.
Penyerahan banner dan sistem QRIS kepada kedua UMKM ini berlangsung pada 26 Juni 2026. Kegiatan pendampingan ini tidak hanya memberikan fasilitas pendukung, tetapi juga berupaya meningkatkan kesadaran pelaku UMKM mengenai pentingnya beradaptasi dengan perkembangan teknologi di era digital.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa komunikasi pembangunan memiliki peran penting dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui edukasi dan pendampingan langsung, pelaku UMKM dapat lebih terbuka dalam memanfaatkan teknologi digital, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas layanan serta daya saing usaha mereka. Mahasiswa berharap program ini dapat memberikan manfaat jangka panjang dan mendorong UMKM untuk terus berkembang sejalan dengan kebutuhan dan perilaku konsumen yang semakin digital.











