Hesti.id – 29 Juni 2026 | Ritual ke Ruang Digital Membingkai Hajat Laut Pangandaran menunjukkan bagaimana tradisi budaya dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pada tanggal 16 Juni lalu, prosesi Hajat Laut Pangandaran berlangsung dengan meriah, menggabungkan pelestarian tradisi di pesisir pantai dengan penyampaian naratif melalui media sosial.
Hajat Laut merupakan upacara adat yang dilakukan oleh para nelayan sebagai ungkapan syukur atas hasil laut yang melimpah. Acara ini berakhir dengan prosesi pelepasan sesaji di tengah laut, yang tidak hanya menjadi momen sakral, tetapi juga menarik perhatian publik yang luas, terutama melalui platform digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, Hajat Laut Pangandaran telah bertransformasi menjadi daya tarik pariwisata budaya yang sangat diminati. Berbagai unggahan di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube menampilkan kemeriahan acara ini, dengan dokumentasi visual yang menawan. Hal ini mengubah cara orang melihat Hajat Laut tidak hanya sebagai ritual adat, tetapi juga sebagai peristiwa budaya yang layak untuk dikunjungi.
Baca juga:
Proses publikasi di platform digital tidak hanya bertujuan untuk mempromosikan acara, tetapi juga untuk membangun citra Hajat Laut sebagai festival budaya yang sukses. Masyarakat dari berbagai daerah berbondong-bondong untuk menyaksikan langsung kemeriahan Hajat Laut, yang terlihat dari tingginya jumlah pengunjung yang datang.
Fenomena ini dapat dianalisis menggunakan Teori Framing yang dikembangkan oleh Erving Goffman dan Robert Entman. Teori ini menjelaskan bagaimana media memilih dan menonjolkan aspek tertentu dari suatu peristiwa untuk menarik perhatian publik. Dalam konteks Hajat Laut, media dan kreator konten lebih banyak menyoroti elemen-elemen menarik, seperti karnaval yang semarak, warna-warni perahu nelayan, serta antusiasme masyarakat yang tinggi.
Namun, tidak semua aspek dari Hajat Laut mendapatkan sorotan yang sama. Beberapa isu seperti kondisi ekonomi nelayan dan pengelolaan lingkungan pasca-acara sering kali terabaikan. Masyarakat lebih cenderung tertarik pada keindahan visual dan kemeriahan acara tanpa mempertimbangkan makna yang lebih dalam dari tradisi ini.
Dengan demikian, Hajat Laut Pangandaran mencerminkan bagaimana media sosial mampu memengaruhi cara kita memahami dan memberikan makna pada tradisi budaya. Dokumentasi dan publikasi di media sosial membantu membentuk pandangan publik tentang ritual ini, menjadikannya lebih dari sekadar acara adat.
Penting bagi masyarakat, terutama generasi muda, untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menyikapi informasi yang beredar di media sosial. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang nilai-nilai budaya dan filosofi di balik tradisi Hajat Laut, masyarakat dapat menghargai dan melestarikan warisan budaya yang berharga ini.











