Hesti.id – 03 Juli 2026 | Bank Indonesia (BI) terus cermati tren defisit neraca perdagangan yang terjadi pada Mei 2026, mencatatkan defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Fenomena ini dipicu oleh pelebaran defisit di sektor minyak dan gas (migas), meskipun kinerja ekspor nonmigas masih mencatat surplus yang signifikan.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit untuk pertama kalinya setelah 72 bulan berturut-turut surplus. Pada bulan Mei, total impor Indonesia mencapai US$ 24,81 miliar, meningkat 22,16% dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain, ekspor tercatat hanya mencapai US$ 23,20 miliar, mengalami penurunan sebesar 5,73% secara tahunan.
Direktur Eksekutif Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny, menekankan pentingnya pemantauan yang intensif terhadap perkembangan sektor eksternal. Menurutnya, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas perekonomian nasional melalui penguatan bauran kebijakan yang ada. “Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ungkap Ramdan dalam siaran pers yang dirilis pada 1 Juli 2026 di Jakarta.
Baca juga:
Walaupun neraca perdagangan secara keseluruhan mengalami defisit, neraca perdagangan nonmigas pada bulan Mei tetap mencatatkan surplus sebesar US$ 2,15 miliar. Hal ini didorong oleh kinerja ekspor nonmigas yang baik, dengan nilai mencapai US$ 22,44 miliar. Kinerja positif ini sebagian besar berasal dari ekspor produk berbasis sumber daya alam, seperti bahan bakar mineral dan nikel.
Negara tujuan ekspor utama Indonesia mencakup Tiongkok, Amerika Serikat, dan India, yang masing-masing berkontribusi signifikan terhadap surplus neraca perdagangan nonmigas. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia dari Januari hingga Mei 2026 tetap menunjukkan surplus sebesar US$ 4,03 miliar.
Defisit yang terjadi di sektor migas, yang menjadi penyebab utama penurunan neraca perdagangan, menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat bergantung pada impor energi. Hal ini menegaskan perlunya diversifikasi sumber energi dan peningkatan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan tersebut.
Melihat kondisi ini, BI terus cermati tren defisit neraca perdagangan dan berupaya untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah serta otoritas terkait. Kebijakan yang diambil diharapkan bisa mengatasi tantangan di sektor perdagangan dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di masa depan.
Penguatan kebijakan dan kerjasama lintas sektor menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian global dan dinamika perdagangan internasional yang kian kompleks. BI terus berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi, yang merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan nasional.











