Hesti.id – 02 Juli 2026 | Hizbullah menolak perjanjian Israel-Lebanon saat serangan Israel menghantam wilayah selatan. Kelompok militan ini menegaskan hak mereka untuk membela Lebanon setelah Israel dituduh melanggar gencatan senjata yang telah disepakati. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada tanggal 28 Juni 2026, Hizbullah mengklaim bahwa Israel telah melakukan serangkaian serangan di wilayah selatan Lebanon, termasuk serangan udara, peledakan bangunan, dan penggunaan drone.
Menurut Hizbullah, serangan ini terjadi di beberapa area, seperti Nabatiyeh, Mefedon, dan Majdal Zoun. Mereka berpendapat bahwa tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap kesepakatan gencatan senjata yang masih dipatuhi oleh mereka. “Kami akan terus memantau pelanggaran-pelanggaran ini, serta tetap memiliki hak untuk membela tanah air dan rakyat kami,” ungkap Hizbullah.
Ketegangan semakin meningkat setelah Israel melancarkan serangan meskipun sebelumnya telah ada kesepakatan yang dimediasi oleh Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut bertujuan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama antara kedua negara. Namun, Hizbullah menolak perjanjian tersebut, menyebutnya sebagai konsesi yang menguntungkan Israel dan merugikan kedaulatan Lebanon.
Baca juga:
Sementara itu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengklaim bahwa militer mereka telah menghancurkan terowongan Hizbullah yang berisi ratusan senjata. Dalam sebuah pernyataan, Netanyahu menyebut terowongan tersebut berukuran lebih dari 200 meter dan mencapai kedalaman 25 meter. Israel mengklaim telah memberi tahu Amerika Serikat tentang operasi ini sebelum melakukannya.
Serangan Israel yang berlanjut memicu kemarahan Hizbullah. Mereka mengancam akan melakukan serangan balasan, menegaskan bahwa mereka tidak akan membiarkan agresi ini berlalu begitu saja. Hizbullah juga menyatakan bahwa perjanjian yang ditandatangani di Washington pada tanggal 26 Juni yang lalu adalah tidak sah dan dianggap sebagai hilangnya kedaulatan Lebanon.
Pada saat yang sama, ribuan pendukung Hizbullah turun ke jalan di Beirut untuk memprotes kesepakatan tersebut. Mereka memblokade jalan dan membawa bendera Hizbullah serta Iran, menunjukkan dukungan mereka terhadap kelompok tersebut. Demonstrasi ini menggambarkan ketidakpuasan masyarakat Lebanon terhadap perjanjian yang dianggap dapat mengancam kedaulatan mereka.
Kesepakatan yang menyatakan pelucutan senjata Hizbullah sebagai syarat untuk menghentikan serangan Israel menjadi titik perdebatan di Lebanon. Hizbullah menilai bahwa mereka tidak akan pernah menyerah dan melucuti senjata mereka dalam keadaan apa pun. Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa mereka akan terus berjuang untuk mempertahankan tanah air meskipun dalam keadaan sulit.
Israel, di sisi lain, berpendapat bahwa kesepakatan tersebut merupakan langkah maju untuk mencapai perdamaian antara kedua negara. Meski demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa serangan dan ketegangan masih terus berlanjut, dengan banyaknya korban jiwa yang telah jatuh akibat konflik ini. Sejak dimulainya serangan, lebih dari 4.192 orang dilaporkan tewas, dan lebih dari 11.600 lainnya mengalami luka-luka.
Dengan situasi yang semakin tegang, banyak yang bertanya-tanya tentang masa depan hubungan antara Lebanon dan Israel. Apakah Hizbullah akan tetap menolak perjanjian Israel-Lebanon saat serangan Israel menghantam wilayah selatan, atau akan ada langkah-langkah baru untuk mencapai perdamaian yang berkelanjutan? Hanya waktu yang akan menjawab pertanyaan ini.











