Hesti.id – 29 Juni 2026 | TASIKMALAYA – Cetak Agripreneur Tangguh Inkubasi Bisnis Universitas Telkom Ubah Petani Ciawi Jadi Wirausahawan Bernilai Tambah. Inisiatif ini diusung oleh Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Telkom yang telah sukses menyelenggarakan program ‘Inkubasi Kewirausahaan Agribisnis pada Kelembagaan Ekonomi Petani Organik Mukti Sadaya’. Program ini bertujuan untuk mentransformasi petani tradisional di wilayah rural, khususnya di Kampung Tegalaja, Desa Pagersari, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, menjadi agripreneur yang mandiri dan berdaya saing.
Selama lima bulan, dari Februari hingga Juni 2026, program ini berlangsung dengan dukungan penuh dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Telkom. Dipimpin oleh Herdiansyah Gustira Pramudia Suryono, S.T., M.E., dosen dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, kegiatan ini melibatkan dua dosen lainnya, yaitu Dr. Dematria Pringgabayu, S.AP., M.M., dan Dr. Ashri Putri Rahadi, S.T., M.S.M., M.Sc., serta tiga mahasiswa yang berperan aktif dalam pendampingan.
Dalam program ini, sebanyak 20 anggota kelompok tani aktif berusia produktif terlibat. Fokus utama adalah membantu mereka beralih dari pola pikir produksi hulu yang selama ini mereka jalani menuju hilirisasi dengan menciptakan produk olahan pangan yang memiliki daya simpan lebih lama. Papit Wirahmana, Ketua Kelembagaan Ekonomi Petani Organik Mukti Sadaya, menyatakan bahwa kehadiran tim Universitas Telkom memberikan pengetahuan manajerial yang sangat dibutuhkan. “Kami terbiasa menjual hasil panen dalam bentuk mentah. Sekarang kami belajar mengolah hasil pertanian kami agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” ungkapnya.
Baca juga:
Metodologi pelatihan yang diterapkan bersifat partisipatif, yang mana dalam sesi diskusi, terungkap bahwa salah satu masalah utama yang dihadapi petani adalah harga jual gabah yang sebanding dengan biaya pupuk, sehingga margin keuntungan menjadi sangat tipis. Menanggapi hal ini, Herdiansyah menekankan pentingnya perubahan pola pikir petani untuk menjual produk beras organik yang lebih menguntungkan. “Beras organik harus dikemas dengan baik dan dipasarkan dengan strategi yang tepat agar bisa bersaing di pasar,” jelasnya.
Selama proses pendampingan, peserta juga belajar menyusun cetak biru bisnis menggunakan metode Business Model Canvas (BMC) untuk memetakan proposisi nilai dari produk beras organik khas Ciawi. Rangkaian kegiatan inkubasi ini mencakup kurasi potensi produk, perancangan kemasan yang menarik, branding, hingga aktivasi promosi digital melalui media sosial.
Keberhasilan program ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi petani secara individu, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 1, yaitu pengentasan kemiskinan. Dengan memanfaatkan konsep ekonomi kreatif berbasis sirkular, program ini membantu memperkuat posisi tawar petani dalam rantai nilai pertanian, sekaligus menciptakan lapangan kerja baru di tingkat desa.
Sebagai penutup, transformasi yang terjadi di Kelompok Tani Organik Mukti Sadaya adalah contoh nyata dari perubahan yang dapat terjadi melalui pengabdian masyarakat yang terencana dan terarah. Dengan dukungan yang tepat, petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga berperan aktif dalam menciptakan nilai tambah bagi produk mereka.











