24/06/2026

MSCI Pertahankan IHSG di Emerging Market, Ini Dampaknya pada Pasar Saham

Penulis

Pande Tóng

MSCI Pertahankan IHSG di Emerging Market, Ini Dampaknya pada Pasar Saham
MSCI Pertahankan IHSG di Emerging Market, Ini Dampaknya pada Pasar Saham

Hesti.id – 24 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 217,45 poin atau 3,56 persen ke level 5.883,88 pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (24/6/2026), setelah MSCI mempertahankan Indonesia di kategori Emerging Market. MSCI memberikan dua catatan terhadap aspek transparansi kepemilikan saham dan praktik coordinated trading untuk pasar modal Indonesia.

IHSG melemah di tengah tekanan jual yang masif, sehingga indeks terus turun hingga menyentuh level terendah 5.876,93. Dari sisi aktivitas perdagangan, nilai transaksi mencapai Rp14,73 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 24,11 miliar saham dan frekuensi transaksi mencapai 1,995 juta kali.

Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp10.315 triliun. Tekanan jual terlihat merata di pasar, dengan 646 saham ditutup melemah, jauh lebih banyak dibandingkan 103 saham yang menguat, sementara 210 saham bergerak stagnan. Pelemahan IHSG sejalan dengan kinerja seluruh indeks sektoral yang ditutup negatif.

Sektor barang baku menjadi penekan terbesar dengan koreksi 6,64 persen, diikuti sektor energi yang turun 5,99 persen. Sementara itu, sektor transportasi melemah 4,84 persen, sektor infrastruktur turun 4,47 persen, dan sektor non-primer terkoreksi 3,91 persen.

Adapun sektor perindustrian turun 3,59 persen, sektor properti melemah 2,81 persen, sektor keuangan turun 2,18 persen, sedangkan sektor primer, kesehatan, dan teknologi masing-masing turun 1,59 persen, 1,58 persen, dan 1,57 persen. MSCI mempertahankan Indonesia di kategori Emerging Market, namun memberikan peringatan soal transparansi kepemilikan saham dan efektivitas reformasi pasar modal.

IHSG turun 3,56 persen ke level 5.883,88 disertai keluarnya modal asing Rp5,62 triliun, membuat net sales asing mencapai Rp1,17 triliun dalam satu hari perdagangan. Ekonom sekaligus mantan Menteri BUMN Laksamana Sukardi menilai, tambahan masa observasi hingga November 2026 menunjukkan investor global belum sepenuhnya percaya pada kekuatan pasar modal Indonesia.

Rupiah juga melemah 72 poin ke Rp17.931 per dolar AS pada perdagangan pagi, dipengaruhi sentimen domestik dan global. Investor mencermati laporan MSCI terkait free float dan transparansi pasar, serta kondisi sektor manufaktur, daya beli masyarakat, dan defisit anggaran pemerintah.

Faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian global turut menekan sentimen terhadap rupiah. MSCI memutuskan untuk kembali menunda evaluasi status pasar saham Indonesia, yang memperpanjang fase ketidakpastian bagi para investor.

Kesimpulan, pelemahan IHSG dan melemahnya rupiah merupakan dampak dari keputusan MSCI yang mempertahankan Indonesia di kategori Emerging Market, namun dengan catatan dan peringatan terkait transparansi kepemilikan saham dan efektivitas reformasi pasar modal. Investor asing tetap bersikap waspada sambil menantikan kepastian kebijakan fiskal serta efektivitas reformasi yang dijalankan otoritas pasar modal Indonesia.

Related Post

Tinggalkan komentar