Hesti.id – 06 Juli 2026 | Petisi boikot Sarwendah muncul di tengah konflik dengan Ruben Onsu, sehari 4000 orang tandatangani [titlebase]. Di Jakarta, publik tengah ramai membahas permasalahan antara Sarwendah Tan dan mantan suaminya, Ruben Onsu. Perseteruan yang menghangat ini dimulai dengan pernyataan Sarwendah terkait uang bulanan yang seharusnya diterima dari Ruben, dan berlanjut dengan munculnya petisi yang meminta agar Sarwendah tidak lagi dipromosikan di media sosial.
Petisi berjudul ‘Cancel Sarwendah dari Media Sosial’ ini diinisiasi oleh akun Netizen Update melalui Change.org dan telah mengumpulkan lebih dari 57.500 tanda tangan hanya dalam waktu enam hari. Dalam petisi tersebut, para penandatangan mengungkapkan kekhawatiran bahwa Sarwendah tidak dapat menjadi contoh baik bagi anak-anak, mengingat perilakunya di media sosial yang dianggap kurang pantas.
Banyak warganet berpendapat bahwa Sarwendah telah memperburuk citra dirinya dengan mengumbar kemesraan di depan anak-anak dan menyudutkan mantan suaminya. “Kita tidak bisa membiarkan anak-anak kita terpapar pada contoh yang buruk,” tulis salah satu netizen dalam kolom komentar petisi tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa publik sangat peduli terhadap dampak tindakan selebriti terhadap generasi muda.
Baca juga:
Ruben Onsu, yang juga menjadi sorotan, mengungkapkan bahwa pemboikotan terhadap Sarwendah adalah konsekuensi dari sikap dan ucapannya yang dianggap mencederai keadilan. Minola Sebayang, kuasa hukum Ruben, menegaskan bahwa tindakan Sarwendah di ruang publik telah menarik perhatian masyarakat dan menimbulkan reaksi negatif.
Di tengah situasi ini, Sarwendah juga membuat laporan polisi tentang dugaan pencemaran nama baik yang dilakukannya. Namun, banyak pihak menilai bahwa tindakan ini justru memperkeruh suasana. Ruben sendiri tengah menggugat hak asuh anak yang melibatkan kedua putri mereka, Thalia dan Thania. Pihaknya merasa perlu ada kepastian hukum mengenai hak asuh anak setelah perceraian mereka, yang terjadi pada tahun 2024.
Rencana mediasi antara Sarwendah dan Ruben yang dijadwalkan pada 11 Juli mendatang kini terancam batal karena ketegangan yang meningkat. Sarwendah merasa dikhianati dengan langkah Ruben yang memilih jalur hukum sebelum adanya kesepakatan damai. “Saya berharap kita bisa duduk bersama dan menyelesaikan ini tanpa harus saling menggugat,” ungkap Sarwendah.
Emma Warokka, seorang aktris, turut berkomentar mengenai fenomena ini dengan mengunggah seruan untuk memboikot Sarwendah di media sosial. “Ini adalah contoh cancel culture yang perlu diperhatikan. Kita harus bisa memilih public figure yang menjadi panutan bagi anak-anak kita,” ujarnya. Dengan lebih dari 20 ribu orang menandatangani petisi ini, ia menekankan pentingnya tanggung jawab sosial dari para artis.
Dalam konteks yang lebih luas, konflik ini mencerminkan bagaimana masyarakat mulai lebih kritis terhadap tindakan publik figur, terutama dalam hal yang berkaitan dengan anak-anak. Petisi boikot Sarwendah muncul di tengah konflik dengan Ruben Onsu, sehari 4000 orang tandatangani [titlebase] menggambarkan bahwa publik mulai menuntut akuntabilitas dari selebriti.
Konflik antara Sarwendah dan Ruben Onsu ini tidak hanya sekadar perselisihan pribadi, tetapi juga menunjukkan bagaimana hubungan antara publik figur dan penggemarnya dapat mempengaruhi citra dan reputasi mereka di mata masyarakat. Dengan banyaknya dukungan terhadap petisi ini, bisa jadi ini adalah awal dari perubahan dalam cara masyarakat memandang dan menilai publik figur.











