Hesti.id – 06 Juli 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan pada pekan terakhir, tertahan pada level 5.875,78 setelah terkoreksi 0,35% dibandingkan pekan sebelumnya. Penurunan ini dipicu oleh aksi jual yang dilakukan oleh investor asing, dengan catatan net sell sebesar Rp 2,73 triliun selama periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa meskipun pada hari Jumat (3/7) investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp 6,08 miliar, secara keseluruhan, mereka masih mencatatkan jual bersih yang signifikan. Sepanjang tahun 2026, total nilai jual bersih asing mencapai Rp 74,42 triliun, mencerminkan arus keluar yang berkelanjutan dari pasar saham domestik.
Saham-saham besar seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi penyebab utama penurunan IHSG. Saham BBRI, misalnya, berkontribusi negatif sebesar 24,88 poin setelah mengalami penurunan 5,57% dalam sepekan. Sementara itu, saham BBCA juga menekan indeks sebesar 14,31 poin dengan penurunan 2,02%.
Baca juga:
Di sisi lain, beberapa saham mampu menopang IHSG. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menjadi kontributor positif terbesar dengan tambahan 9,60 poin, diikuti oleh PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang menyumbang 7,96 poin. Saham-saham lain yang mendukung laju IHSG termasuk PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC).
Volume transaksi harian di BEI juga mengalami penurunan, dengan rata-rata frekuensi transaksi harian turun 16,71% menjadi 1,44 juta kali, dan volume transaksi harian turun 30,35% menjadi 17,54 miliar saham. Nilai transaksi harian rata-rata juga terkoreksi 35,90% menjadi Rp 11,27 triliun.
Ekonom dari Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Dr. Surya Vandiantara, menjelaskan bahwa fluktuasi IHSG perlu dipahami secara menyeluruh. Ia mencatat bahwa meskipun kinerja perusahaan yang terdaftar cenderung stabil, IHSG masih bisa turun akibat faktor lain, termasuk ketidakpastian makroekonomi dan sentimen pasar.
Harapan untuk pemulihan masih ada, terutama dengan saham-saham yang menunjukkan kinerja baik seperti AMMN dan DCII. Jika investor asing mulai kembali melakukan pembelian, ada kemungkinan IHSG dapat kembali ke jalur positifnya.
Sementara itu, pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi perhatian, di mana pada hari Jumat, nilai tukar rupiah menguat 45 poin menjadi Rp 17.950 per USD. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga dan arus keluar dana asing tetap menjadi tantangan bagi pasar. Dengan kondisi ini, pelaku pasar perlu berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.











