Hesti.id – 10 Juli 2026 | Di usia senja yang menginjak 80 tahun, Hj. Saiyah, seorang wanita yang telah menghabiskan seumur hidupnya di sekitar Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, kini menghadapi kenyataan pahit. Dulu asri kini jadi gunungan sampah, nestapa Mak Saiyah lewati masa tua di dekat TPA Jatiwaringin. Tempat yang dulunya dipenuhi pepohonan dan danau kini dipenuhi tumpukan sampah yang menimbulkan bau menyengat.
Hj. Saiyah adalah salah satu dari puluhan warga yang terpaksa mengungsi akibat kebakaran yang melanda TPA Jatiwaringin selama tujuh hari terakhir. Kebakaran ini mengingatkan Saiyah pada masa-masa sulit ketika suaminya, yang menderita asma, tidak mampu bernafas dengan baik akibat polusi dari TPA.
“Saya sudah tinggal di sini sejak lahir, jauh sebelum TPA ada. Dulu, tempat ini sangat indah,” ungkapnya saat ditemui di lokasi pengungsian di Desa Tanjakan Mekar, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang. Namun, sambil mengingat masa lalu, air mata Saiyah menetes saat ia menyadari betapa banyak yang telah berubah. “Enggak ada sukanya. Udah enggak betah,” ucapnya dengan nada sedih.
Baca juga:
Kebakaran TPA Jatiwaringin bukanlah kejadian baru. Sebelumnya, Saiyah juga menyaksikan beberapa kebakaran serupa yang menimbulkan trauma bagi warga sekitar. Pengalaman pahit ini semakin memperburuk kondisi kesehatan suaminya, yang akhirnya meninggal dunia karena komplikasi yang diakibatkan oleh asma.
Sejak kebakaran terjadi, banyak warga yang harus meninggalkan rumah mereka. Mereka terpaksa mencari tempat pengungsian yang lebih aman, namun tidak sedikit dari mereka yang merasa kehilangan rumah dan kenangan yang telah terbangun bertahun-tahun.
Lingkungan yang dulunya asri kini menjadi tempat yang penuh dengan masalah. Selain bau tidak sedap, kualitas udara di sekitar TPA Jatiwaringin juga mencemari kesehatan warga. Banyak dari mereka, termasuk Saiyah, mengalami gangguan pernapasan yang semakin parah akibat debu dan asap yang ditimbulkan dari kebakaran sampah.
“Saya ingat saat suami saya mulai sesak napas setelah kebakaran di TPA beberapa tahun lalu. Sejak saat itu, kesehatan suami saya terus menurun,” kenang Saiyah. Kini, ia harus menghadapi masa tuanya tanpa suami di sampingnya, dan dikelilingi oleh tumpukan sampah yang terus menggunung.
Keberadaan TPA Jatiwaringin telah menjadi beban berat bagi masyarakat sekitar. Mereka merasa terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan, di mana tempat tinggal mereka bersebelahan dengan limbah dan pencemaran. Para warga berharap agar pemerintah segera mengambil langkah untuk mengatasi masalah ini, agar tidak ada lagi yang menderita seperti yang dialami Saiyah.
“Kami ingin hidup dengan tenang dan sehat. Tapi dengan kondisi seperti ini, itu semua terasa sulit. Kami berharap ada solusi dari pemerintah,” harapnya. Dulu asri kini jadi gunungan sampah, nestapa Mak Saiyah lewati masa tua di dekat TPA Jatiwaringin menjadi gambaran nyata tentang perjuangan yang dihadapi oleh warga di sekitar TPA.











