19/06/2026

MUQ Aceh Selatan Gelar Nobar Film Sultan Muhammad Al-Fatih Tanamkan Semangat Hijrah dan Kepemimpinan Santri

Penulis

Mariabella La Fierza

MUQ Aceh Selatan Gelar Nobar Film Sultan Muhammad Al-Fatih Tanamkan Semangat Hijrah dan Kepemimpinan Santri
MUQ Aceh Selatan Gelar Nobar Film Sultan Muhammad Al-Fatih Tanamkan Semangat Hijrah dan Kepemimpinan Santri

Hesti.id – 19 Juni 2026 | MUQ Aceh Selatan Gelar Nobar Film Sultan Muhammad Al-Fatih Tanamkan Semangat Hijrah dan Kepemimpinan Santri. Sebagai bagian dari rangkaian Festival Muharram 1448 H, Madrasatul Ulumul Qur’an (MUQ) Aceh Selatan menggelar nonton bareng (nobar) film Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih 1453 yang diikuti oleh seluruh santri bersama dewan guru.

Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan semangat hijrah, memperkuat wawasan sejarah Islam, serta menanamkan nilai kepemimpinan, disiplin, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan di kalangan civitas pesantren. MUQ Aceh Selatan Gelar Nobar Film Sultan Muhammad Al-Fatih Tanamkan Semangat Hijrah dan Kepemimpinan Santri dengan harapan para santri dapat memahami sejarah kejayaan peradaban Islam.

Film yang mengisahkan keberhasilan Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 tersebut dipilih sebagai media edukasi karena sarat dengan nilai perjuangan, kecerdasan, kepemimpinan, dan semangat membangun peradaban Islam. Para santri tampak antusias mengikuti kegiatan yang berlangsung dalam suasana penuh kekhidmatan dan semangat kebersamaan.

MUQ Aceh Selatan Gelar Nobar Film Sultan Muhammad Al-Fatih Tanamkan Semangat Hijrah dan Kepemimpinan Santri yang menurut Direktur MUQ Aceh Selatan, Dr. (Cand.) Tgk. Muhammad Ridho Agung, S.Pd., M.Ag, kisah kemenangan umat Islam dalam film tersebut memberikan pelajaran berharga bagi para santri untuk menyongsong tahun baru Islam dengan semangat yang lebih baik.

“Kisah kemenangan umat Islam dalam film Penaklukan Konstantinopel oleh Sultan Muhammad Al-Fatih 1453 mengajarkan para santri tentang semangat baru di tahun baru Islam, pentingnya memadukan ilmu agama (taqwa) dengan ilmu umum (sains dan strategi), serta memiliki visi besar. Kesuksesan ini membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil bagi seorang pemuda yang mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.

Pertama, sinergi antara ulama dan umara. Sultan Muhammad Al-Fatih tumbuh dan dididik oleh para ulama besar, khususnya Syaikh Syamsuddin. Hal tersebut menjadi pelajaran bahwa santri harus senantiasa menghormati guru dan menjadikan nasihat para ulama sebagai pedoman dalam setiap langkah perjuangan.

Kedua, penguasaan sains dan teknologi. Keberhasilan menaklukkan Konstantinopel tidak hanya bertumpu pada keberanian pasukan, tetapi juga ditopang oleh inovasi teknologi dan strategi yang luar biasa, termasuk penggunaan meriam canggih dan strategi memindahkan kapal melalui jalur darat menuju Teluk Golden Horn.

“Santri didorong tidak hanya mampu menghafal Al-Qur’an dan menguasai kitab kuning, tetapi juga melek teknologi, memahami matematika, fisika, serta berbagai ilmu pengetahuan umum lainnya agar mampu menjawab tantangan zaman,” jelasnya.

Selain itu, para santri juga diajak memahami pentingnya kombinasi antara ikhtiar dan doa. Sebelum meraih kemenangan, Sultan Al-Fatih melakukan persiapan yang matang, menyusun strategi secara terukur, sekaligus menjaga kedekatan dengan Allah SWT melalui shalat malam, zikir, dan tilawah Al-Qur’an.

Nilai berikutnya adalah disiplin dan manajemen waktu. Keberhasilan menembus benteng terkuat pada masanya tidak terlepas dari kedisiplinan yang tinggi. Karena itu, kedisiplinan santri dalam menjalankan jadwal pesantren, baik mengaji, belajar maupun beristirahat, merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter dan kesuksesan di masa depan.

Tidak kalah penting, lanjutnya, adalah pondasi akhlak dan toleransi yang ditunjukkan Sultan Muhammad Al-Fatih setelah penaklukan Konstantinopel. Beliau menjamin keselamatan penduduk setempat dan menghormati hak-hak masyarakat non-Muslim.

“Sikap tersebut mencerminkan nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Santri harus menjadi teladan dalam menjaga perdamaian, persatuan, dan toleransi di tengah masyarakat,” tambahnya.

Melalui kegiatan nobar yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Muharram 1448 H, MUQ Aceh Selatan berharap para santri tidak hanya memahami sejarah kejayaan peradaban Islam, tetapi juga mampu mengambil hikmah dan menjadikannya sebagai motivasi untuk terus belajar, berakhlak mulia, menguasai ilmu pengetahuan, serta mempersiapkan diri menjadi generasi pemimpin umat di masa depan.

“Muharram adalah momentum hijrah menuju pribadi yang lebih baik. Semoga semangat Sultan Muhammad Al-Fatih dapat menginspirasi para santri untuk terus berjuang membangun peradaban melalui ilmu, iman, dan amal,” pungkas Dr. (Cand.) Tgk. Muhammad Ridho Agung, S.Pd., M.Ag.

Kesimpulan dari kegiatan MUQ Aceh Selatan Gelar Nobar Film Sultan Muhammad Al-Fatih Tanamkan Semangat Hijrah dan Kepemimpinan Santri adalah bahwa para santri dapat memahami sejarah kejayaan peradaban Islam dan mengambil hikmah dari kisah kemenangan umat Islam. Dengan demikian, para santri dapat mempersiapkan diri menjadi generasi pemimpin umat di masa depan.

Related Post

Tinggalkan komentar