Hesti.id – 28 Juni 2026 | Dalam beberapa waktu terakhir, fenomena Ketawa Dulu Meringis Kemudian Meme Pertamax dan Seni Kritik ala Warganet semakin mengemuka. Kenaikan harga Pertamax yang baru-baru ini diumumkan telah memicu gelombang reaksi di media sosial, terutama di TikTok. Di era digital ini, protes masyarakat sering kali tidak hanya muncul dalam bentuk demonstrasi di jalan, tetapi juga melalui konten kreatif yang menyebar luas dengan cepat.
Setelah pengumuman kenaikan harga Pertamax, berbagai video humor mulai bermunculan di TikTok. Beberapa di antaranya menggambarkan pengisian Pertamax sebagai kemewahan, atau bahkan menyamakan Pertamax dengan parfum mahal. Tidak sedikit pula yang bercanda tentang bagaimana nongkrong di SPBU kini menjadi salah satu cara untuk menunjukkan status sosial. Konten-konten ini tidak hanya menghibur, tetapi juga berhasil menarik perhatian publik dengan jumlah tayangan yang mencapai ratusan ribu hingga jutaan.
Sebagai contoh, video-video kreatif ini menunjukkan bagaimana masyarakat merespons situasi sulit dengan cara yang lebih positif. Alih-alih terpuruk dalam kepanikan akibat kenaikan harga yang mencapai hampir 32% dalam semalam, warganet memilih untuk mengekspresikan frustrasi mereka melalui tawa. Ini menunjukkan bahwa teori klasik mengenai audiens pasif yang hanya menerima informasi tanpa perlawanan semakin sulit diterapkan dalam konteks media digital saat ini.
Baca juga:
Dengan menggunakan perspektif Teori Peluru yang dikembangkan oleh Harold Lasswell, kita mungkin berpikir bahwa masyarakat akan langsung panik saat mendengar berita tersebut. Namun, kenyataannya, mereka justru berbalik mengubah ‘tembakan’ informasi itu menjadi konten humor yang menyenangkan. Ini adalah bukti bahwa media sosial telah mengubah peran masyarakat dari sekadar penerima pesan menjadi produsen yang aktif, mengolah makna dan mengekspresikan pendapat mereka dengan cara yang unik.
Di sisi lain, Teori Uses and Gratifications (Blumler & Katz, 1974) juga memberikan wawasan tentang bagaimana warganet berinteraksi dengan konten. Mereka tidak hanya pasif terpapar berita, tetapi secara aktif memilih konten yang mereka inginkan untuk memenuhi kebutuhan emosional dan sosial mereka. Konten humor yang beredar di media sosial menjadi sarana yang mudah diakses untuk meredakan stres akibat kenaikan harga.
Lebih dari sekadar hiburan, konten humor ini juga memiliki dampak yang lebih luas. Dengan menjangkau audiens yang mungkin tidak terbiasa membuka berita ekonomi dan politik, video-video ini menyebarkan kesadaran tentang isu kenaikan harga Pertamax. Penonton tidak hanya terhibur tetapi juga memperoleh informasi penting tentang dampak kenaikan harga yang dirasakan banyak orang.
Demokrasi digital di Indonesia tampak semakin hidup, penuh dengan suara yang beragam, kreatif, dan tidak bisa diabaikan. Warganet tidak hanya diam dan menerima keadaan, tetapi mereka memilih untuk bersuara dengan cara mereka sendiri, menciptakan ruang bagi kritik yang dikemas dalam tawa. Kritik ini tidak berarti tidak serius; sebaliknya, ia memilih jalur yang lebih manusiawi, menjangkau lebih banyak orang dengan cara yang lebih relatable.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Ketawa Dulu Meringis Kemudian Meme Pertamax dan Seni Kritik ala Warganet adalah fenomena yang mencerminkan dinamika masyarakat modern. Di tengah tantangan yang ada, masyarakat menemukan cara baru untuk mengekspresikan opini dan kritik, menjadikan media sosial sebagai platform yang efektif untuk berbagi suara mereka.





