Hesti.id – 11 Juli 2026 | Gencatan resmi berakhir! Perang AS-Iran pecah lagi hanya sehari jelang pemakaman Khamenei [titlebase] menandai kembalinya ketegangan yang sempat mereda setelah nota kesepahaman 14 poin ditandatangani pada 17 Juni. Namun, serangan udara beruntun yang dilancarkan Amerika Serikat pada dua malam berturut-turut mengguncang kembali situasi di wilayah Teluk, memicu penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan dunia.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) mengklaim telah menghantam lebih dari 90 target militer Iran, termasuk sistem pertahanan udara, infrastruktur logistik, serta fasilitas transportasi penting seperti jembatan dan rel kereta api menuju Mashhad. Serangan ini ditujukan untuk melemahkan kemampuan Iran menyerang kapal dagang. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGB) meluncurkan serangan ke pangkalan militer AS di Kuwait dan Bahrain, menyebutnya fase pertama pembalasan. Kementerian Kesehatan Iran melaporkan 14 orang tewas dan 78 luka-luka akibat serangan tersebut.
Di sisi lain, situasi politik semakin tegang menjelang prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas pada 28 Februari dalam serangan gabungan AS‑Israel. Jutaan warga Iran berbondong‑bongong ke jalanan Mashhad untuk menghormati sang pemimpin, sementara dunia menyaksikan bagaimana konflik militer mengancam upacara tersebut. Gencatan resmi berakhir! Perang AS-Iran pecah lagi hanya sehari jelang pemakaman Khamenei [titlebase] menjadi sorotan utama media internasional, mengingat potensi dampaknya terhadap pasar energi global.
Baca juga:
Ekonom dan analis kelautan memperingatkan bahwa penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak. Phil Belcher, Direktur Kelautan Intertanko, mencatat bahwa jumlah kapal harian yang melintasi selatan selat turun dari 130 menjadi kurang dari 10 dalam seminggu terakhir. Penurunan ini tidak hanya mengganggu rantai pasokan minyak, tetapi juga menambah tekanan pada negara‑negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Presiden AS Donald Trump, dalam sebuah pernyataan di KTT NATO di Ankara, menegaskan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni telah berakhir. Ia menambahkan bahwa AS tidak berniat memperpanjang konflik, namun menolak untuk bernegosiasi lebih lanjut dengan Iran. Pernyataan ini memicu kritik dari sejumlah pengamat yang menilai langkah tersebut memperburuk peluang diplomasi. Sementara itu, pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menggelar rapat darurat untuk menilai kemungkinan eskalasi lebih luas yang dapat melibatkan Israel.
Iran menanggapi dengan tegas, menolak segala bentuk intimidasi dan menegaskan bahwa selat Hormuz hanya akan dibuka di bawah pengaturan mereka, bukan melalui ancaman militer AS. Negosiator senior Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa Iran tidak akan tinggal diam terhadap serangan yang dianggap sebagai pelanggaran hukum internasional.
Ketegangan ini juga memengaruhi hubungan regional. Negara‑negara Teluk lainnya, seperti Kuwait dan Bahrain, meningkatkan kesiapsiagaan militer mereka dan memperketat kontrol perbatasan. Di dalam negeri, masyarakat Iran mengalami ketakutan dan kebingungan, terutama karena serangan juga menargetkan infrastruktur sipil, termasuk barak IRGC di Bushehr dekat pembangkit nuklir.
Secara keseluruhan, situasi menunjukkan bahwa gencatan resmi berakhir! Perang AS-Iran pecah lagi hanya sehari jelang pemakaman Khamenei [titlebase] bukan sekadar episode militer singkat, melainkan pertanda bahwa hubungan kedua negara berada pada titik kritis yang dapat memicu konflik lebih luas. Upaya diplomatik kini tampak terhambat oleh sikap keras masing‑masing pihak, sementara ekonomi global merasakan dampak langsung melalui gangguan jalur perdagangan energi.
Kesimpulannya, dunia harus memantau dengan cermat perkembangan di Selat Hormuz dan prosesi pemakaman Khamenei, karena setiap langkah militer selanjutnya dapat memperburuk krisis energi dan mengubah peta geopolitik Timur Tengah dalam waktu singkat.











