Hesti.id – 10 Juli 2026 | Francois Letexier, waspada di lapangan, menjadi sorotan setelah keputusan kontroversialnya di pertandingan Piala Dunia 2026 menimbulkan gelombang kritik, khususnya dari Mesir. Sejak pertandingan 3‑2 antara Argentina dan Mesir, nama Letexier menjadi bahan perbincangan di media dan forum sepak bola.
Peristiwa tersebut dimulai pada 58 menit, ketika Mesir, yang sedang memimpin 2‑0, menabrak lini pertahanan Argentina. Salah seorang pemain Argentina, Alexis Mac Allister, diduga menarik pemain Mesir, Hamdy Fathy, di dalam kotak penalti. Namun Letexier tidak mengangkat kartu kuning atau menegaskan penalti. Sementara itu, VAR memanggil Letexier untuk meninjau kejadian sebelumnya, namun keputusan tetap tidak berubah.
Selanjutnya, ketika Mesir menyiapkan tendangan penalti, Letexier menolak. Mesir menuduh bahwa pelatih Hossam Hassan dan beberapa pemain tidak diberikan kesempatan yang adil. Tindakan ini memicu kemarahan di kalangan pemain Mesir dan penggemar. Di sisi lain, Argentina mengeksekusi gol kemenangan Enzo Fernandez pada waktu tambahan, menutup pertandingan dengan 3‑2.
Baca juga:
Setelah pertandingan, Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) secara resmi mengajukan pengaduan ke FIFA. Presiden EFA, Hany Aburida, menuntut penghapusan Letexier beserta seluruh kru VAR. Dia menilai bahwa keputusan Letexier menunjukkan “kesalahan serius” dan “standar ganda” yang merugikan Mesir. EFA menuntut audit menyeluruh terhadap semua keputusan, termasuk video assistant referees.
Di sisi lain, Ketua Pengadil FIFA, Pierluigi Collina, menyatakan dukungannya terhadap Letexier. Collina menekankan bahwa keputusan di lapangan harus dipertimbangkan secara objektif dan bahwa proses review VAR masih dalam tahap evaluasi. Ia juga menyatakan bahwa FIFA akan meninjau rekaman pertandingan sebelum memutuskan masa depan Letexier di turnamen.
Reaksi Letexier sendiri tidak langsung muncul. Namun, media mencatat bahwa ia telah berkarier sejak 2016 di Ligue 1 dan bergabung dalam daftar pengadil internasional FIFA sejak 2017. Keputusan kontroversial ini menandai titik balik bagi karirnya, menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan peninjauan ulang di masa depan.
Kontroversi ini juga menyoroti perdebatan lebih luas tentang penggunaan VAR di Piala Dunia. Beberapa mantan pemain, seperti Alan Shearer dan Jamie Carragher, mengkritik ketidakkonsistenan dalam penerapan VAR. Mereka menilai bahwa keputusan yang seharusnya diambil di lapangan tidak selalu konsisten, memunculkan persepsi “double standards.”
FIFA menegaskan komitmennya untuk meningkatkan sistem VAR. Dalam pernyataan resmi, FIFA mengumumkan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap semua keputusan Letexier serta prosedur VAR yang digunakan. Hal ini termasuk audit rekaman video, analisis data, dan konsultasi dengan pihak ketiga.
Jika keputusan FIFA menolak pengaduan Mesir, Letexier kemungkinan akan tetap bertugas di sisa turnamen. Namun, jika ditemukan bukti kesalahan, ia dapat dipindahkan ke pertandingan lain atau bahkan dikeluarkan dari kompetisi. Keputusan ini akan mempengaruhi persepsi publik tentang keadilan di Piala Dunia.
Kontroversi ini juga menimbulkan pertanyaan tentang peran negara tuan rumah. Mesir mengklaim bahwa keputusan tersebut dirancang untuk menjaga posisi Argentina, sementara Argentina menolak tuduhan tersebut. Sementara itu, publikasi media menyoroti pentingnya transparansi dan akuntabilitas di level internasional.
Secara keseluruhan, nama Letexier telah menjadi simbol ketegangan antara keputusan teknis dan persepsi publik. Bagaimanapun, FIFA berjanji akan meninjau secara menyeluruh untuk memastikan integritas kompetisi tetap terjaga.











