Hesti.id – 06 Juli 2026 | FIFA kini tengah berada dalam situasi yang cukup genting setelah munculnya klaim diskriminasi ke timnas Iran, FIFA dituntut nyaris Rp18 triliun. Tuntutan ini dipicu oleh serangkaian peristiwa yang dialami oleh Timnas Iran selama Piala Dunia 2026, yang dinilai merugikan dan tidak adil bagi mereka.
Timnas Iran, yang dikenal sebagai Team Melli, mengalami sejumlah kendala yang cukup signifikan. Salah satu masalah utama yang mereka hadapi adalah ancaman tidak mendapatkan visa untuk berpartisipasi dalam turnamen yang diselenggarakan di Amerika Serikat. Hubungan yang tegang antara Iran dan AS menjadi faktor penentu dalam situasi ini. Beruntung, FIFA turun tangan untuk menyelesaikan masalah visa tersebut, namun masalah belum berhenti di situ.
Setelah masalah visa teratasi, Timnas Iran tidak bisa berlatih atau bermarkas di AS, meskipun semua pertandingan fase grup mereka berlangsung di sana. Alih-alih bermarkas di negara tuan rumah, mereka terpaksa harus berpindah ke Tijuana, Meksiko. Hal ini tentu saja menambah beban perjalanan dan logistik yang harus mereka tanggung, serta mengganggu fokus tim.
Baca juga:
Lebih parahnya lagi, saat pertandingan melawan Mesir, gol kemenangan yang dicetak oleh Shoja Khalilzadeh dianulir oleh wasit. Banyak pengamat dan pendukung merasa bahwa keputusan itu tidak adil dan merugikan tim Iran, sehingga anggapan bahwa wakil Asia ini didiskriminasi semakin kuat. Gol yang dianulir tersebut membuat peluang mereka untuk maju ke babak gugur menjadi sirna, menambah rasa frustrasi yang dirasakan oleh para pemain dan pendukung mereka.
Dengan serangkaian kejadian yang mencoreng reputasi Piala Dunia, tim hukum yang mewakili Timnas Iran kini menggugat FIFA dengan jumlah yang fantastis, yaitu sebesar 1 miliar dolar AS, atau setara dengan nyaris Rp18 triliun. Gugatan ini dianggap sebagai langkah untuk memperjuangkan hak-hak tim yang merasa diperlakukan tidak adil dalam turnamen bergengsi tersebut. Ini bukan hanya tentang uang, tetapi juga tentang pengakuan bahwa mereka telah mengalami perlakuan yang tidak setara di arena internasional.
FIFA, sebagai badan pengatur sepak bola dunia, kini menghadapi tekanan yang lebih besar untuk melakukan evaluasi terhadap sistem dan kebijakan yang mereka terapkan, terutama dalam menangani isu-isu sensitif seperti diskriminasi dan perlakuan terhadap negara-negara dengan hubungan internasional yang rumit. Timnas Iran, yang memiliki sejarah panjang dalam sepak bola Asia, kini berada dalam sorotan, dan banyak pihak yang berharap agar suara mereka didengar.
Ke depannya, kasus ini akan menjadi perhatian penting bagi FIFA dan bisa menjadi momentum untuk memperbaiki kebijakan yang ada agar tetap adil bagi semua negara peserta. Diskriminasi ke timnas Iran, FIFA dituntut nyaris Rp18 triliun bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang martabat dan keadilan dalam olahraga. Semua mata kini tertuju pada perkembangan kasus ini, menunggu langkah apa yang akan diambil oleh FIFA selanjutnya.











