1 Juli 2026

Empat Hibah ERC untuk Penelitian Medis di Irlandia

Empat Hibah ERC untuk Penelitian Medis di Irlandia
Empat Hibah ERC untuk Penelitian Medis di Irlandia

Hesti.id – 01 Juli 2026 | Irlandia mengantongi empat hibah ERC untuk penelitian medis lebih lanjut, yang akan mendukung inovasi dalam bidang kesehatan dan teknologi. Keberhasilan ini merupakan hasil dari upaya para peneliti Eropa untuk membuktikan dampak penelitian mereka terhadap masyarakat.

Dalam putaran pertama tahun ini, European Research Council (ERC) telah membagikan dana sebesar lebih dari €27 juta kepada 182 peneliti yang memiliki ide-ide berpotensi tinggi untuk memberikan dampak sosial atau komersial. Setiap peneliti yang terpilih akan menerima hibah sebesar €150,000 untuk pengembangan proyek yang mereka ajukan.

Di antara para penerima hibah, Prof Niamh Nowlan dari University College Dublin (UCD) mendapatkan dana untuk penelitian yang berfokus pada pengembangan metode baru dalam pengobatan gangguan pertumbuhan anak. Proyek yang dikenal dengan nama ‘Grow-Reg’ ini bertujuan untuk mengidentifikasi penanda permukaan sel yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tulang pada anak-anak. Menurut Nowlan, penelitian ini bertujuan untuk menciptakan terapi yang dapat mempercepat atau memperlambat pertumbuhan tulang tanpa memerlukan obat atau operasi invasif.

“Memajukan penelitian dasar lebih dekat dengan pasien, khususnya bayi dan anak-anak, sangat berharga bagi kami,” ujar Nowlan. Proyek ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya yang juga didanai oleh ERC, yang akan memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pengobatan untuk gangguan pertumbuhan anak.

Sementara itu, dua proyek lainnya dari University of Galway juga berhasil meraih hibah Proof of Concept. Proyek pertama, yang dipimpin oleh Ines Thiele, bertajuk ‘iChatRD’, berfokus pada pengembangan sistem pendukung keputusan klinis untuk mendiagnosis penyakit metabolik langka. Thiele menjelaskan bahwa tantangan terbesar dalam proyek ini adalah menerjemahkan penelitian dasar mereka ke dalam aplikasi praktis yang dapat digunakan oleh dokter.

“Informasi klinis yang terbaik sering kali terdapat dalam format teks bebas, sehingga iChatRD berupaya menjembatani kesenjangan ini dengan menggabungkan pemodelan metabolik dan bahasa alami untuk memberikan saran diagnosis,” ungkapnya. Hibah dari ERC ini diharapkan dapat membantu timnya mempersingkat waktu diagnosis yang selama ini membebani pasien dengan penyakit langka.

Proyek kedua dari University of Galway, yang bernama ‘GelEV’, dipimpin oleh Meadhbh Brennan. Proyek ini berfokus pada pengembangan teknologi baru yang dapat meningkatkan pengiriman obat regeneratif ke lokasi jaringan yang terluka. Tim ini berusaha untuk merekayasa hidrogel asam hialuronat untuk memastikan pengiriman yang lebih efisien ke vesikel ekstraseluler.

University of Limerick juga tidak ketinggalan, dengan proyek ‘Eve Heals’ yang dipimpin oleh Dimitrios Zevgolis. Proyek ini bertujuan untuk menemukan solusi bagi penyakit yang menyerang kulit dengan menggunakan bahan pengganti hidup yang direkayasa melalui proses in-vitro.

“Inovasi sering kali dimulai dari pertanyaan mendasar yang diajukan oleh seorang peneliti. 182 proyek ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan yang didorong oleh rasa ingin tahu dapat berdampak pada dunia nyata,” kata Ekaterina Zaharieva, komisaris Eropa untuk start-up, penelitian, dan inovasi. “Dengan dukungan hibah Proof of Concept, para peneliti ERC dapat menguji bagaimana penemuan mereka dapat berubah menjadi solusi yang bermanfaat bagi masyarakat di seluruh Eropa.”

Putaran pertama hibah Proof of Concept tahun ini juga mencatatkan peningkatan 15 persen dalam jumlah proposal yang diterima dibandingkan tahun lalu. Pendaftaran untuk putaran kedua kini telah dibuka, dengan batas waktu pendaftaran pada bulan September.

Related Post

Tinggalkan komentar