Hesti.id – 19 Juni 2026 | Program Pengembangan Sapi Perah di NTB Tak Berlanjut menjadi topik hangat di kalangan peternak dan pemerintah setempat. Rencana pengembangan usaha sapi perah di NTB belum berlanjut, meskipun sebelumnya Kementerian Pertanian akan memberikan dukungan. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) NTB, Muh. Riadi, mengatakan wacana pengembangan sapi perah sebenarnya sudah muncul sejak beberapa tahun terakhir.
NTB sempat masuk dalam pembahasan sebagai salah satu daerah yang berpotensi menjadi lokasi proyek percontohan (pilot project) pengembangan sapi perah. Namun, rencana tersebut belum terealisasi karena berbagai pertimbangan teknis dan kebutuhan investasi yang cukup besar. "Dulu sempat ada pembahasan dan penawaran untuk pengembangan sapi perah. Kita juga sudah menyiapkan beberapa kawasan yang memiliki iklim relatif sejuk seperti Sembalun dan daerah dataran tinggi lainnya. Tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut," ujar Riadi.
Program Pengembangan Sapi Perah di NTB Tak Berlanjut memerlukan beberapa faktor pendukung, di antaranya iklim. Sebagian besar sapi perah yang memiliki produktivitas tinggi berasal dari negara beriklim dingin seperti Australia dan Selandia Baru. Karena itu, apabila sapi perah impor didatangkan ke NTB, diperlukan modifikasi lingkungan pemeliharaan agar produktivitasnya tetap terjaga.
Baca juga:
Ia menjelaskan bahwa teknologi pengaturan mikroklimat kandang menjadi kebutuhan utama. Kandang harus dirancang modern dengan sistem pendingin, ventilasi yang baik, hingga manajemen pakan yang terukur. "Kalau sapinya berasal dari Australia atau Selandia Baru, tentu harus disesuaikan dengan kondisi iklim di sini. Secara teknologi sebenarnya bisa dilakukan dengan modifikasi kandang dan pengaturan suhu," jelasnya.
Program Pengembangan Sapi Perah di NTB Tak Berlanjut juga memerlukan investasi yang cukup besar. Riadi mengungkapkan bahwa pengembangan sapi perah tidak bisa dilakukan dalam skala kecil apabila ingin menghasilkan keuntungan dan menarik investasi. Berdasarkan perhitungan awal yang pernah dilakukan, usaha sapi perah baru dinilai layak secara ekonomi jika dimulai dengan populasi sekitar 200 ekor.
Dengan populasi tersebut, investor atau korporasi dapat membangun rantai usaha yang terintegrasi mulai dari produksi susu segar hingga pengolahan produk turunannya. Namun, kebutuhan investasi juga menjadi tantangan utama. Riadi menyebut harga satu ekor sapi perah produktif saat ini berkisar Rp45 juta ke atas.
Artinya, hanya untuk pengadaan 200 ekor sapi dibutuhkan dana sekitar Rp9 miliar. Angka tersebut belum termasuk pembangunan kandang modern, mesin pemerahan susu, fasilitas pendingin, peralatan pengolahan susu, hingga penyediaan tenaga ahli dan konsultan. "Kalau harga per ekor sekitar Rp45 juta, untuk 200 ekor saja sudah sekitar Rp9 miliar. Itu baru sapinya. Belum kandang modern, mesin pemerahan, sistem pendingin, pengolahan susu dan kebutuhan lainnya," katanya.
Program Pengembangan Sapi Perah di NTB Tak Berlanjut memerlukan peran serta investor atau korporasi. Riadi menilai pengembangan sapi perah lebih realistis dilakukan melalui investasi korporasi dibandingkan peternak rakyat secara individu. "Masyarakat kita belum terbiasa memelihara sapi perah. Kalau korporasi yang masuk, biasanya semua sistem sudah disiapkan, mulai dari kandang, pakan, teknologi hingga pemasarannya," ujarnya.
Meski belum terealisasi, Riadi menilai peluang pengembangan sapi perah di NTB masih sangat menjanjikan. Tingginya kebutuhan susu nasional dan masih terbatasnya produksi dalam negeri menjadi peluang besar bagi daerah untuk mengembangkan subsektor tersebut. "Kebutuhan susu terus meningkat, sementara produksi dalam negeri masih terbatas. Karena itu sebenarnya pengembangan sapi perah tetap relevan dan memiliki prospek yang baik," katanya.
Disnakeswan NTB berencana kembali melakukan komunikasi dan diskusi dengan berbagai pihak terkait guna melihat kemungkinan menghidupkan kembali rencana pengembangan sapi perah di daerah. Termasuk mengawal terus rencana pengembangan sapi perah di NTB oleh Kementerian Pertanian. "Kalau ada investor yang serius dan perhitungan ekonominya memungkinkan, tentu ini bisa menjadi peluang baru bagi sektor peternakan NTB. Yang penting semua aspek teknis, ekonomi dan keberlanjutannya dihitung secara matang," demikian Riadi.
Kesimpulan, Program Pengembangan Sapi Perah di NTB Tak Berlanjut masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Dengan peran serta investor atau korporasi, pengembangan sapi perah dapat menjadi salah satu sektor unggulan di NTB. Namun, perlu mempertimbangkan berbagai aspek teknis, ekonomi, dan keberlanjutan untuk menghindari kegagalan.










