Hesti.id – 02 Juli 2026 | Red Hat baru saja meluncurkan inovasi terbarunya, yaitu Red Hat Ansible Automation Platform Lapisan Eksekusi untuk Operasional IT di Era Agentic. Inovasi ini dirancang untuk mendukung operasional agen-agen AI dalam skala enterprise. Dengan pengenalan lapisan eksekusi tepercaya, Red Hat menawarkan jembatan industri yang menghubungkan kecerdasan buatan dengan tindakan nyata di dunia IT.
Otomatisasi menjadi fondasi yang sangat penting bagi penerapan AI. Saat organisasi berpindah dari fase eksperimen ke produksi AI, mereka memerlukan cara yang handal untuk menghubungkan hasil dari model AI dengan infrastruktur yang sudah ada. Versi terbaru, Ansible Automation Platform 2.7, dilengkapi dengan orchestration automation terbaru yang membantu menjembatani gap tersebut. Platform ini menawarkan tata kelola berbasis kebijakan dan presisi tinggi yang diperlukan untuk mengubah kecerdasan AI menjadi tindakan operasional yang konkret.
“Dengan semakin cepatnya perubahan yang dibawa oleh AI terhadap ITOps, Red Hat memberikan dukungan otomatisasi yang jelas dan terstruktur, sehingga kecerdasan dapat diubah menjadi tindakan yang dapat diandalkan,” ungkap Sathish Balakrishnan, Wakil Presiden sekaligus General Manager Ansible di Red Hat, dalam siaran pers yang diterima. “Ansible Automation Platform berfungsi sebagai control plane untuk otomatisasi yang berbasis peristiwa dan AI. Ini memungkinkan pergeseran dari otomatisasi yang deterministik menuju orkestrasi berbasis hasil yang lebih komprehensif,” tambahnya.
Baca juga:
Inovasi terbaru pada Ansible Automation Platform memungkinkan tim untuk mengorkestrasi alur kerja AI yang kompleks, dengan mengintegrasikan pengawasan manusia dan wawasan cerdas. Beberapa fitur baru yang ditawarkan antara lain:
- AI yang Sadar Konteks: Memungkinkan AI memberikan respons yang lebih kontekstual dengan mengintegrasikan informasi spesifik organisasi melalui fungsi bring-your-own-knowledge.
- Jembatan AI Universal: Menyederhanakan otomatisasi berbasis AI dengan menggunakan Model Context Protocol (MCP) untuk menghubungkan alat AI dan otomatisasi tanpa perlu integrasi terpisah.
- AIOps yang Dipercepat: Menggunakan panduan solusi terarah untuk memudahkan implementasi AIOps dengan mitra ekosistem seperti IBM Instana dan ServiceNow.
- Pemanfaatan Otomatisasi yang Disederhanakan: Meningkatkan efisiensi pemanfaatan otomatisasi di berbagai tim dengan alur kerja yang lebih sederhana.
- Pengambilan Keputusan Berbasis Data: Menyediakan dashboard otomatisasi untuk memantau metrik kinerja dan ROI dari otomatisasi.
- Orkestrasi Multi-Mode: Mengintegrasikan otomatisasi deterministik, berbasis peristiwa, dan berbasis AI melalui orkestrator terbaru.
Melihat potensi yang ditawarkan oleh Ansible Automation Platform, jelas bahwa inovasi ini menandai langkah signifikan bagi organisasi yang ingin mengoperasionalkan AI dalam lingkungan IT mereka. Organisasi tidak perlu memulai segalanya dari nol untuk mengadopsi AI. Dengan memanfaatkan pustaka playbook yang sudah ada, mereka dapat menggunakan tata kelola yang jelas, sehingga agen AI dapat melakukan analisis dan merekomendasikan tindakan yang kemudian dieksekusi melalui alur kerja yang telah disetujui.
Tim infrastruktur kini menjadi garda terdepan dalam transisi menuju lingkungan agentic yang lebih padat. Menurut IDC, diperkirakan pada tahun 2027, 85% organisasi dalam Global 500 akan mengadopsi AI agentic untuk operasional cloud IT otonom. Ini bertujuan untuk memantau, menganalisis, dan memulihkan masalah secara berkelanjutan dengan intervensi manusia yang minimal. Dalam konteks ini, kemampuan agen AI sangat bergantung pada sistem yang mengeksekusi tujuan mereka dengan baik.
Jevin Jensen, Wakil Presiden Riset di IDC, menekankan bahwa tantangan bagi pemimpin IT bukan hanya menghasilkan wawasan dari AI, tetapi juga cara untuk mentransformasikan proyek percontohan menjadi beban kerja siap produksi dengan cara yang aman dan hemat biaya.
“Orkestrator otomatisasi berfungsi sebagai jembatan penting, menyediakan lapisan eksekusi tepercaya untuk memungkinkan agen AI berinteraksi dengan infrastruktur kompleks melalui alur kerja yang terkelola dengan baik. Kemampuan ini sangat krusial bagi organisasi yang ingin beralih dari eksperimen AI menuju operasional otonom yang sesungguhnya,” pungkasnya.











