2 Juli 2026

Jepang Rancang Panel Surya di Bulan untuk Energi Bersih

Penulis

Nakasaputra Jeramy

Jepang Rancang Panel Surya di Bulan untuk Energi Bersih
Jepang Rancang Panel Surya di Bulan untuk Energi Bersih

Hesti.id – 02 Juli 2026 | Jepang mau pasang panel surya di Bulan listriknya akan dikirim ke Bumi. Inovasi ini diusulkan oleh Shimizu Corporation, sebuah perusahaan konstruksi yang berambisi untuk membangun sistem panel surya raksasa di permukaan Bulan. Proyek yang dinamakan Luna Ring ini bertujuan untuk menghasilkan energi dalam jumlah yang sangat besar, diperkirakan hingga 13.000 terawatt, yang setara dengan sekitar 500 kali konsumsi listrik dunia saat ini.

Luna Ring dirancang sebagai sabuk panel surya yang melingkari garis khatulistiwa Bulan sepanjang 11.000 kilometer. Berbeda dengan panel surya di Bumi yang terganggu oleh cuaca dan hanya dapat beroperasi di siang hari, panel di Bulan diprediksi dapat menyerap sinar Matahari hampir tanpa henti. Kondisi ini disebabkan oleh tidak adanya atmosfer, awan, atau hujan di Bulan, yang memungkinkan panel untuk beroperasi hampir 24 jam sehari.

Ide untuk proyek ini muncul setelah bencana gempa dan tsunami Tohoku pada tahun 2011, yang menyebabkan krisis energi di Jepang, khususnya di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Peristiwa tragis ini memicu Jepang untuk mencari sumber energi alternatif yang lebih aman, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Shimizu Corporation menilai bahwa lokasi di Bulan jauh lebih ideal untuk menghasilkan energi surya dibandingkan dengan Bumi.

Untuk mengirimkan listrik dari Bulan ke Bumi, Luna Ring akan melalui beberapa tahap. Pertama, panel surya di Bulan akan menangkap sinar Matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik. Selanjutnya, listrik ini akan dialirkan melalui jaringan kabel ke fasilitas transmisi yang berada di sisi Bulan yang selalu menghadap ke Bumi. Di lokasi ini, energi listrik akan dikonversi menjadi gelombang mikro dan laser berenergi tinggi, yang kemudian akan dikirim ke stasiun penerima di Bumi. Stasiun ini menggunakan teknologi rectenna untuk mengubah gelombang mikro menjadi listrik yang siap disalurkan ke jaringan listrik nasional.

Proyek ini juga berpotensi untuk menghasilkan hidrogen hijau sebagai bahan bakar bersih dan media penyimpanan energi. Pembangunan Luna Ring akan memanfaatkan robot yang dikendalikan dari Bumi, serta sumber daya yang ada di Bulan, seperti tanah yang akan diolah menjadi beton dan material konstruksi lainnya.

Namun, tantangan besar masih menghadang proyek ini. Hingga kini, belum ada teknologi yang mampu mentransmisikan listrik dari Bulan ke Bumi dalam skala besar dengan akurasi tinggi. Sistem yang dirancang memerlukan sinyal pemandu dari Bumi agar pancaran microwave dan laser dapat mencapai stasiun penerima dengan tepat. Selain itu, biaya pembangunan proyek ini diperkirakan sangat tinggi dan belum ada pendanaan resmi yang diperoleh. Banyak pakar energi di Jepang juga berpendapat bahwa pengembangan energi panas bumi lebih realistis dibandingkan membangun pembangkit listrik di luar angkasa.

Jepang bukanlah satu-satunya negara yang menjajaki ide pembangkit listrik luar angkasa. Pada tahun 2023, California Institute of Technology (Caltech) berhasil mendemonstrasikan pengiriman daya listrik nirkabel dari orbit ke Bumi dalam skala kecil melalui proyek MAPLE. Di sisi lain, Japan Space Systems juga tengah mengembangkan proyek OHISAMA, yang akan menguji transmisi energi surya dari luar angkasa. Sementara itu, China berencana membangun pembangkit listrik tenaga surya luar angkasa dalam dekade 2030-an, dan Inggris telah mendukung riset serupa melalui pendanaan pemerintah.

Konsep Luna Ring menunjukkan bagaimana teknologi masa depan dapat membuka peluang baru dalam penyediaan energi bersih. Dengan memanfaatkan sinar Matahari di Bulan yang tersedia hampir sepanjang waktu, Jepang berharap suatu hari listrik dapat dipasok ke Bumi tanpa bergantung pada cuaca dan bahan bakar fosil.

Related Post

Tinggalkan komentar